Senin, 17 Juni 2013

refleksi: Elegi Kerajaan Stigma

http://powermathematics.blogspot.com/2012/10/elegi-kerajaan-stigma.html

Stigma dikaitkan dengan hal-hal yang negatif. Apabila manusia terkena hal-hal yang negatif, maka dia dianggap terkena stigma. Seseorang yang telah terkena stigma maka dia akan diliputi oleh hawa nafsu yang negatif.

REFLEKSI: Elegi Menggapai Paradoks Tukang Cukur

http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-menggapai-paradoks-tukang-cukur.html

Sehebat-hebatnya seseorang pasti juga akan membutuhkan bantuan orang lain. Manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Seperti dalam elegi menggapai paradoks tukang cukur di atas, tukang cukur tersebut dapat mencukur rambiut orang lain namun dia tidak bisa mencukur rambutnya sendiri. Tukang cukur tersebut memerlukan bantuan dari orang lain untuk mencukur rambutnya. Oleh karena itu, dalam pergaulan sosial, sebagai makhluk sosial manusia tidak boleh sombong agar apabila kita sedang kesusahan ada orang lain yang bersedia menolong kita.

REFLEKSI: Forum Tanya Jawab 2: Tema Hantu dan Kematian di kelas RSBI....?


Mungkin tujuan kelas di setting dengan tema hantu dan kematian adalah untuk menambah motivasi dan semangat belajar siswa. Siswa memerlukan suasana yang baru dan berbeda dari kelas pada umumnya agar mereka lebih bersemangat dalam belajar.

REFLEKSI: Elegi Pertempuran Bagawat Sakti dan Bagawat Ikhlas


Ikhlas merupakan kunci sukses dalam melakukan berbagai kegiatan. Apabila kita melakukan segala sesuatu dengan ikhlas, maka kita akan mampu mengontrol diri kita sehingga apa yang akan kita lakukan dapat terkontrol dan terarah. Dalam menuntut ilmu pun kita juga harus ikhlas agar ilmu yang kita dapatkan tersebut dapat bermanfaat bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain.

Sabtu, 08 Juni 2013

REFLEKSI: Sumber Penting untuk Pembelajaran Matematika


Terima kasih atas info yang Bapak berikan. Alamat web tersebut dapat kami jadikan referensi sumber belajar. Dalam web tersebut telah ada postingan mengenai lesson plan dari negara-negara lain, video pembelajaran, lesson study, dan lain-lain. Dari situ kita dapat belajar membuat dan mengembangkan rpp dari negara-negara yang telah mengembangkan metode pembelajaran inovatif.

REFLEKSI: Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 25: Kompromi antar Pure Mathematics dgn School Mathemastics (Jawaban untuk Prof Sutarto Bgn Keempat)

http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_148.html

Dalam artikel di atas disebutkan bahwa quasi mathematic dapat digunakan untuk mempertemukan pure mathematics dan school mathematics. Quasi mathematic dapat digunakan untuk mengenalkan kepada siswa SD bahwa 3+4=7 adalah benar dan bukan kontradiksi. Sedangkan 3 pensil + 4 buku dapat digunakan untuk mengembangkan matematika subjektif pada siswa SD.

REFLEKSI: Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 24: Solusi 3+4=7 kontradiktif? (Jawaban utk Prof Sutarto Bgn Ketiga)

http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_7298.html

Berdasarkan artikel di atas, apabila para Mathematical Educationist menelaah objek yang berada di lingkup pure mathematic, maka mereka harus mampu melakukan mathematical research. Dan sebaliknya, apabila para pure mathematician menelaah objek yang berada di lingkup mathematical educationist, maka mereka harus mampu mempelajari pengembangan mathematical education. Dalam kegiatan pembelajaran bersama siswa-siswanya di sekolah, para pure mathematician juga harus mampu memberikan kesempatan kepada siswanya agar mampu mengkonstruksi pemahaman mereka sendiri.

REFLEKSI: Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 23: Logicist-Formalist-Foundationalist (Jawaban utk Prof Sutarto Bgn kedua)

http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_7962.html

Para matematikawan pengembang pure-mathematics sangat unggul bentuk formalnya, namun mereka sulit untuk berinteraksi dengan kaum muda yang notabenya sedang belajar matematika sekolah. Matematika di perguruan tinggi ini sangat konsisten karena terbebas dari ruang dan waktu.

REFLEKSI: Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 22: Apakah Mat Kontradiktif (Jawaban utk Prof Sutarto Bgn Kesatu)

http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_3491.html

Matematika di perguruan tinggi adalah matematika murni yang merupakan karya dari kaum logicist-formalist-foundationalist. Sifat matematika ini adalah abstrak, konsisten. Hal ini oleh kaum Intuitionist-Fallibist-SocioConstructivist karena dianggap hanya sebagai mitos belaka.

REFLEKSI: Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 20: Apkh Mat Kontradiktif? (Tanggapn utk Bu Kriswianti bgn kedua)


Dalam artikel di atas disebutkan definisi matematika menurut Ebbutt and Straker. Menurut Ebbutt and Straker (1995) definisi Matematika sebagai berikut:
1. Matematika adalah ILMU tentang penelusuran Pola dan Hubungan
2. Matematika adalah ILMU tentang Pemecahan Masalah (ProblemSolving)
3. Matematika adalah ILMU tentang Kegiatan Investigasi
4. Matematika adalah ILMU berkomunikasi.
Definisi menurut Ebbutt and Straker sangat berkaitan dengan matematika sekolah.

REFLEKSI: Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 19: Apakah Mat Kontradiktif? (Tanggapan utk P Handarto C)


Tidak ada sesuatu di dunia ini yang benar-benar konsisten, kecuali Tuhan. Hal yang paling maksimal dilakukan oleh manusia hanyalah mengandaikan/memisalkan/mengasumsikan/mengharapkan sebagai konsisten.
Matematika murni sifatnya konsisten sedangkan matematika sekolah sifatnya kontradiksi.

REFLEKSI: Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 17: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Ketujuh)


Apabila matematika dibangun atas prinsip identitas saja, maka matematika bukanlah suatu ilmu karena prinsip identitas tersebut tidak memberikan mampu memberikan informasi kepada kita. Oleh karena itu, agar dapat menjadi ilmu, maka definisi pembentuk sistem matematika harus bersifat kontradiktif.

REFLEKSI: Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 16: Apakah Matematika Kontradiktif (Bagian Keenam)


Unsur dasar pembentuk sistem matematika itu sifatnya memberikan makna. Melalui unsur  dasar tersebut dapat digunakan untuk membuktikan apakah matematika itu kontradiktif atau tidak. Secara filosofis, unsur dasar pembentuk sistem matematika merupakan hubungan dari dua atau lebih unsur singular (unsur yang tidak memiliki makna). Secara bahasa, unsur dasar pembentuk sistem matematika adalah hubungan atara subyek dan predikat. Contoh unsur dasar : X=0, di sini X sebagai subyek dan 0 sebagai predikat, sedangkan tanda = dapat dibaca adalah. Jadi secara bahasa, X=0 dapat dibaca X adalah 0. Secara bahasa, adalah merupakan penghubung antara subyek dan predikat. Dalam sistem matematika, adalah merupakan pembentuk definisi. Sedangkan secara filsafat, adalah merupakan penghubung unsur-unsur dasar pembentuk prinsip dunia.
Dalam dunia seutuhnya hanya ada 2 prinsip, yaitu hukum identitas dan hukum kontradiksi. Dalam artikel di atas telah disebutkan mengenai hukum identitas yang berbunyi “SUATU DIRI UNSUR ADALAH DIRI UNSUR ITU SENDIRI" dan secara matematika dinyatakan sebagai "A=A". Sebelumnya telah dicontohkan mengenai X=0 padahal jika menurut hukum identitas, X=X (bukan X=0). Dari situ dapat ditemukan hukum kontradiksinya, karena pada dasarnya semua yang tidak sesuai dengan hukum identitas adalah hukum kontradiksi.

REFLEKSI: Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 15: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Kelima)


Jika unsur-unsur matematika, misalnya bilangan 1, 2, 3, 4, 5, ... kita temukan secara terpisah dan saling terisolasi antara bilangan yang satu dengan yang lainnya, maka kita tidak akan menemukan makna apapun dari bilangan tersebut. Kita baru bisa menemukan makna dari bilangan tersebut, apabila setiap bilangan memiliki nilai yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Misalnya bilangan 1 lebih kecil dari bilangan 2, bilangan 2 lebih kecil dari bilangan 3, dan seterusnya.

REFLEKSI: Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 14: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Keempat)


Ciri-ciri dunia hakekat atau dunia seutuhnya adalah adanya prinsip identitas dan prinsip kontradiksi. Hakekat kontradiksi dalam dunia sepenuhnya dengan hakekat kontradiksi dalam dunia yang terbebas oleh ruang dan waktu itu berbeda. Secara awam bisa dijelaskan bahwa kontradiksi filsafat dengan kontradiksi matematika itu berbeda.
Kontradiksi dari sistem matematika yang dibangun kaum logicist-formalist-foundationalist adalah ketidak konsistenan dari sistem itu sendiri. Sedangkan kontradiksi dari dunia seutuhnya adalah bukan identitas unsur-unsur matematikanya.

REFLEKSI: Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 13: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Ketiga)


Metode logika dan metode formal yang dikerjakan oleh kaum logicist-formalist-foundationalist baru mencakup dunia yang terbebas oleh ruang dan waktu. Kaum tersebut belum mampu mencakup hakekat dunia atau dunia yang sepenuhnya. Oleh karena itu, karya-karya kaum logicist-formalist-foundationalist belum lengkap karena mereka hanya ingin mempertahankan kekonsistenan dari sistem matematika yang mereka buat.

REFLEKSI: Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 12: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian kedua)


Semua logicist dan formalist adalah foundamentalist. Mereka mengembangkan struktur matematika dari anggapan atau pun dari pra anggapan. 
Kaum logicist-formalist-foundationalist membangun sistem matematika yang bersifat tertutup agar tetap konsisten. Berdasarkan temuan mereka,  setiap unsur pembentuk sistem matematika bersifat kontradiktif namun satu kesatuan dari sistem tersebut mereka sebut konsisten atau tidak kontradiktif. 

Jumat, 07 Juni 2013

REFLEKSI: Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 11: Apakah Matematika Kontradiktif ? (Bagian Kesatu)

http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_5953.html

Dari artikel di atas diketahui bahwa sebagian matematikawan kita adalah logicist dan formalist. Para logicist dan formalist menganggap bahwa matematika itu konsisten, bukan kontradiktif. Padahal tidak semua yang kita jumpai itu konsisten. Padahal jika ada sesuatu yang tidak konsisten berarti itu kontradiktif. Berarti tidak selamanya kita akan menemukan sesuatu itu konsisten.

Kamis, 06 Juni 2013

REFLEKSI: Elegi Refleksi Elegi

http://powermathematics.blogspot.com/2012/10/elegi-refleksi-elegi.html


Dari artikel di atas, kita dapat mengetahui bahwa metode pembelajaran yang digunakan Pak Marsigit adalah metode pembelajaran inovatif. Pak Marsigit telah menfasilitasi dan memenuhi kebutuhan belajar para mahasiswa beliau. Mahasiswa diberikan kebebasan untuk mengkonstruksi pemahaman mereka sendiri. Pak Marsigit juga telah memberikan kemudahan kepada mahasiswanya untuk senantiasa belajar di mana pun dan kapan pun mereka berada melalui blog yang telah dibuat beliau. Oleh karena itu, saya sangat berterima kasih kepada Pak Marsigit atas segala fasilitas belajar yang diberikan beliau kepada saya. ^^

Rabu, 05 Juni 2013

REFLEKSI: Jargon Pertengkaran Guru dan Siswa


Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak boleh berlaku otoriter kepada siswa. Guru juga tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada siswa. Guru harus mampu mengembangkan kegiatan pembelajaran yang demokratis. Siswa harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun dan mengembangkan sendiri ide /gagasan mereka. Dalam belajar, siswa harus diberikan kebebasan untuk bertindak sesuai dengan intuisinya sendiri.

REFLEKSI: Michael Jackson Berupaya Mendaur Ulang Limbah Kapitalisme, Utilitarianisme, Pragmatisme dan Hedonisme.


Sebelum kapitalisme, utilitarisme, pragmatisme, dan hedonisme mulai berkembang, mungkin kehidupan manusia di dunia akan aman, seimbang, damai, dan tentram karena manusia memiliki spiritual yang tinggi. Kehidupan manusia juga akan lebih humanis dan manusia juga akan lebih menjunjung nilai-nilai luhur budaya moral.

Michael Jackson melalui lagunya yang berjudul Earth Song memberitahukan bahwa seandainya di dunia ini tidak berkembang kapitalisme, utilitarisme, pragmatisme, dan hedonisme, mungkin kehidupan di dunia akan jauh lebih humanis. Bumi mungkin tidak akan rusak akibat perbuatan dari tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Melalui lagu tersebut, Michael seolah menunjukkan kesensitifannya terhadap fenomena perkembangan aliran-aliran tersebut. Namun apa daya, saking ganasnya kapitalisme, utilitarisme, pragmatisme, dan hedonisme membuat Michael sulit untuk keluar dan bahkan membuatnya terjerumus ke dalam aliaran yang ia lawan.

Senin, 03 Juni 2013

Refleksi: Jargon Pertengkaran Tradisional dan Inovatif


Guru tradisional selalu menjadikan siswanya sebagai objek pembelajaran. Guru tradisional selalu bertindak otoriter dengan memaksakan kehendaknya terhadap siswa. Dalam mengajar, guru tradisional juga hanya menggunakan metode ceramah saja. Guru tradisional hanya mengandalkan satu sumber belajar saja. Berbeda dengan guru tradisional, guru inovetif jauh lebih bijaksana terhadap siswanya. Dia tidak akan memaksakan kehendaknya kepada siswa karena dia sangat demokratis. Siswa bebas mengembangkan konsep-konsep pengetahuan sesuai pemahaman mereka sendiri. Guru inovatif juga tidak hanya menggunakan metode ceramah saja dalam kegiatan pembelajaran. Dia akan lebih banyak menggunakan metode diskusi karena dengan metode diskusi siswa dapat mengkonstruksi sendiri pemahaman mereka tentang pengetahuan-pengetahuan yang baru mereka dapatkan. Dalam kegiatan pembelajarn, guru inovatif menggunakan berbagai macam sumber belajar, diantaranya: buku, blog, internet, ICT, dan lain-lain.

REFLEKSI: Kutarunggu Sang Rakata Menyatukan Lima Gunung (Kedua)


Agar kita mampu melihat kelemahan yang ada dalam diri kita, maka kita harus menghilangkan kesombongan dalam diri kita. Agar kita mampu melakukan introspeksi terhadap diri kita sendiri, maka kita juga perlu menghilangkan kesombongan dalam diri kita. Dalam bergaul dengan orang lain pun kita juga harus menghilangkan kesombongan dalam diri kita. Kita tahu bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Untuk itu, kita tidak perlu menyombongkan kelebihan kita karena di dalam kelebihan itu pasti juga ada kekurangan. Dalam bermusyawarah pun begitu. Dalam bermusyawarah untuk menyelesaikan suatu masalah, kita juga harus menghilangkan kesombongan kita. Kita tidak akan dapat menemukan penyelesaian masalah apabila masing-masing orang/anggota musyawarah saling mempertahankan egonya yang antara satu orang dengan orang lainnya bertentangan. Untuk itu, agar permasalahan bersama dapat terselesaikan, maka setiap anggota perlu menyamakan persepsi mereka. Selain itu, mereka juga harus menghilangkan keegoisan dan kesombongan dalam diri mereka.

Minggu, 02 Juni 2013

REFLEKSI: Kutarunggu Sang Rakata Menyatukan Lima Gunung (Pertama)


Sebagai seorang manusia biasa pastilah diri kita jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kita tidak boleh sombong. Sering kali kita tidak sadar bahwa kita telah melakukan kesombongan meskipun itu terhadap diri kita sendiri. Misalnya saja saya merasa tidak enak badan, namun saya tidak mau minum obat apalagi pergi ke dokter. Perbuatan saya tersebut merupakan salah contoh kesombongan saya terhadap diri saya sendiri, terutama terhadap badan saya.

Selain itu, sebagai seorang manusia biasa, sering kali kita juga lebih mudah melihat kesalahan dan kelemahan orang lain daripada kesalahan dan kelemahan diri kita sendiri. Kita lebih mudah mengkritik dan mengoreksi orang lain, padahal belum tentu kita yang benar. Oleh karena itu, kita harus mampu melakukan introspeksi terhadap diri kita sendiri sebelum kita memberikan penilaian kepada orang lain. Kita juga harus mampu menghilangkan kesombongan dalam diri kita agar kita dapat melakukan introspeksi terhadap diri kita sendiri.

REFLEKSI: Elegi Menggapai Obyek Penelitian


Dari artikel di atas, kita dapat melihat bahwa sebenarnya yang menjadi objek penelitian seorang guru adalah siswanya sendiri dan berbagai fenomena yang terjadi selama proses kegiatan pembelajaran. Sikap dan perilaku murid juga dapat menjadi objek penelitian bagi guru. Seorang guru juga perlu mengadakan penelitian mengenai metode pembelajaran yang efektif jika diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Maka dari itu, metode pembelajaran inovatif juga merupakan objek penelitian bagi guru. Bagi guru, semua yang berkaitan dengan siswa (khususnya yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan belajar siswa) dan kegiatan pembelajaran dapat menjadi objek penelitiannya.