Jumat, 31 Mei 2013

REFLEKSI: Filsafat Hidup Orang Indonesia_oleh Marsigit


Dalam filsafat hidup orang Indonesia, orang Indonesia cenderung memikirkan hal-hal yang konkret dan sifatnya kuantitatif baru kemudian memikirkan hal-hal yang abstrak dan sifatnya kualitatif. Orang Indonesia cenderung memikirkan hal-hal yang terlihat secara fisik (yang dapat terlihat oleh indera penglihatan) terlebih dahulu baru kemudian  memikirkan hal-hal yang non-fisik. Misalnya saja, ada seorang pengusaha dan seorang pemulung. Si pengusaha merupakan orang yang telah memiliki materi yang banyak sedangkan si pemulung, materi yang dimilikinya hanya cukup untuk ia dan keluarganya makan selama satu hari. Karena si pengusaha telah berkecukupan dalam hal materi, maka hal yang kemudian dia pikirkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan hubungan sosial dengan orang lain, kemudian berlanjut ke menjadi seorang pemikir yang mampu mencetuskan ide-ide kreatif bagi pekerjaannya, kemudian dia akan memikirkan filsafat hidupnya, baru kemudian dia akan memikirkan hal-hal spritual yang berkaitan dengan Tuhannya. Berbeda dengan si pemulung tadi. Dia tidak akan repot-repot memikirkan hubungan sosialnya dengan orang lain karena dia sendiri sudah cukup penat dengan urusan pribadinya sendiri. Dia juga belum terlalu memikirkan hubungan spiritualnya dengan Tuhan karena dia masih terlalu memikirkan kebutuhan duniawinya.

REFLEKSI: Kutarunggu Sang Stigmaraja Transendenta


Pelajaran yang saya peroleh dari artikel di atas adalah janganlah kita menyerah jika kita mengalami kegagalan. Kegagalan itu biasa namun bagaimana kita bisa bangkit dari kegagalan itu baru luar biasa. Kita tidak boleh berpikiran untuk mengakhiri hidup kita hanya karena kita selalu gagal. Kegagalan adalah awal dari keberhasilan. Kegagalan merupakan salah satu cobaan yang diberikan Allah kepada umatnya agar dia dapat menjadi pribadi yang kuat karena sesungguhnya Allah lebih menyukai muslim yang kuat daripada muslim yang lemah. Baik kuat secara fisik maupun kuat secara mental. Oleh karena itu, apabila kita mangalami kegagalan, kita tidak boleh terlalu terlarut dalam kesedihan. Kita harus mampu bangkit dan berusaha lebih baik lagi untuk dapat mencapai keberhasilan kita.

Kamis, 30 Mei 2013

REFLEKSI: Elegi Menggapai Awal dan Akhir Kedua

http://powermathematics.blogspot.com/2010/07/elegi-menggapai-awal-dan-akhir-kedua.html

Di dunia ini, sesuatu yang berawal pasti akan berakhir karena dunia ini bersifat fana atau sementara. Terjadinya jagat raya ini, dahulunya ada awalnya dan akhirnya kelak adalah terjadinya kiamat. Manusia hanya hidup sementara di dunia ini. Manusia mengawali hidupnya sewaktu dia ada dikandungan ibunya dan mengakhiri hidupnya jika dia sudah meninggal. Jadi sesuatu yang tidak kekal/abadi pasti akan berakhir.

Rabu, 29 Mei 2013

REFLEKSI: Elegi Menggapai Awal

http://powermathematics.blogspot.com/2010/07/elegi-menggapai-awal.html

Dari artikel di atas, banyak yang mengartikan tentang awal. Menurut analitik, awal adalah anggapan awal “(pre-assumption). Menurut pengalaman, awal adalah kesadaran dan menurut vitalitas, awal adalah potensi. Awal menurut awal itu berifat kontradiktif. Awal bisa berarti ada, namun bisa juga berarti keputusan.

REFLEKSI: Elegi Persiapan Selamatan Raja Purna


Kekuasaan absolut itu adalah kekuasaan Allah. Setinggi-tingginya kekuasaan raja di dunia ini, masih tinggi kekuasaan Allah. Allah lah yang menguasai seluruh alam semesta ini. Raja adalah makhluk ciptaan Allah. Dan sebagai makhluk ciptaan Allah, raja ajib menyembah dan patuh kepada Allah. Sebagai seorang manusia biasa, raja dan kita pada umumnya tidak boleh terlalu berlebihan dengan mengagung-agungkan kekuasaan yang kita miliki. Ada pepatah yang berbunyi “di atas langit masih ada langit.” Mungkin pepatah tersebut bisa kita jadikan pedoman agar kita tidak sombong karena walaupun kita menganggap diri kita itu hebat namun masih ada orang lain yang lebih hebat daripada kita. Oleh karena itu, kita tidak boleh menyombongkan kekuasaan yang kita miliki karena kekuasaan absolut itu hanya milik Allah.

REFLEKSI: Hakekat Kurikulum_Diresensi oleh Marsigit


Dari tabel pada artikel di atas, terdapat tiga pembagian kurikulum, yaitu instrumental curriculum, interactive curriculum, dan individualistic curriculum. Ketiga kurikulum tersebut memiliki perbedaan satu sama lainnya. Pada masing-masing kurikulum tentu juga memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Dalam iinstrumental kurikulum, guru sebagai penerima pasif. Dalam nteractive curriculum, guru merupakan peserta.  Sedangkan dalam individualistik curriculum, guru sebagi bertindak pengembang.

Minggu, 26 Mei 2013

REFLEKSI: Menggapai Guru yang Sustainabel _ Photo by Marsigit


Dari foto di atas kita dapat melihat bahwa  pembelajaran di kelas tersebut sangat efektif. Kegiatan pembelajaran dilakukan melalui kegiatan Lesson Study. Guru bekerja sama dengan pihak dari luar yang merupakan ahli atau pakar di bidang pendidikan. Kegiatan Lesson Study ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas komponen-komponen pembentuk sistem pendidikan, salah satunya Lesson Plan.

REFLEKSI: Traditional - Innovative Teaching _ Oleh Marsigit


Seperti yang telah kita lihat saat ini, pembelajaran di Indonesia masih sangat tradisional.Hal ini tentunya masih menjadi suatu masalah. Pembelajaran tradisional seakan telah membudaya dan pasti akan sangat sulit untuk mengubahnya. Pembelajaran tradisional merupakan kegiatan pembelajaran yang hanya men-transfer pengetahuan dari guru ke murid saja. Hal ini sangat tidak baik. Seharusnya siswa dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuan-pengetahuan yang baru mereka dapat agar lebih mandiri. Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru agar siswa dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka adalah dengan mengubah metode pembelajarannya yang semula tradisional diubah ke metode inovatif.

REFLEKSI: Menggapai Guru yang Akuntabel (dapat dipercaya) _ Photo oleh CRICED


Dari foto di atas, kita dapat melihat bahwa guru tersebut adalah guru yang akuntabel. Dalam kegiatan pembelajaran, mereka sangat terbuka. Hal ini terbukti dari banyaknya observer yang mengamati jalannya proses pembelajaran. Walaupun ada banyak observer, namun murid-murid tetap enjoy dalam belajar. Melalui kegiatan ini, menandakan bahwa guru dapat dipercaya. Guru dapat menunjukkan kepada murid-muridnya dan kepada observer mengenai sumber belajar dan metode pembelajaran yang ia gunakan. 

REFLEKSI: Elegi Sang Bagawat Menggapai Kesempatan

Kesempatan aadalah gidup dan hidup adalah kesempatan. Tanpa adanya kesempatan maka seseorang dapat dikatakan tidak hidup. Hidup seseorang adalah karena hidup orang lain. Hati seseorang adalah jiwa orang itu. Hti seseorang merupakan hidup orang tersebut, maka hidupnya adalah hatinya. Sebenar-benarnya hidup adalah memberi dan diberi kesempatan. Misalnya seorang guru yang meraih kesempatan adalah dia yang mampu hidup dan menghidupkan muridnya sehingga muridnya juga akan menggapai kesempatan pula.

Jumat, 24 Mei 2013

REFLEKSI: Elegi Menggapai Pengetahuan Obyektif


pengetahuan objektif ialah persepsi, analisis, tesis, pendapat, metode, dan  kesimpulan yang benar. Objektif berarti benar-benar sesuai dengan kenyataan. Jadi, kita menilai sesuatu atau seseorang itu berdasarkan kenyataan, bukan berdasarkan faktor subjektivitas.

REFLEKSI: Elegi Perbincangan Para Sama


Sama absolut itu adalah milik dan kuasa Tuhan. Setinggi-tingginya sama yang mampu dipikirkan oleh manusia adalah sama relatif. Dalam agama islam, manusia memiliki derajat yang sama dihadapan Allah, hanya saja amal dari orang tersebut saja yang membedakannya. Selain itu, karakteristik antara orang yang satu dengan yang lainnya juga tidak sama.

Kamis, 23 Mei 2013

REFLEKSI: Elegi Konferensi Para Beda


Setiap individu memiliki ciri khas masing-masing. Karakteristik anatar individu yang satu dengan individu lainnya adalah tidak sama. Dalam kegiatan pembelajaran misalnya, antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya memiliki karakteristik yang berbeda. Ada anak yang cara berpikirnya cepat dan ada pula anak yang cara berpikirnya lambat. Ada anak yang lebih senang belajar dengan  menggunakan metode diskusi, ada pula anak yang lebih senang belajar dengan menggunakan metode tanya jawab. Oleh karena itu, kita tidak bisa menyamakan antara sattu siswa dengan siswa lainnya karena pada dasarnya karakteristik tiap-tiap siswa berbeda.

REFLEKSI: Elegi Pemberontakan Para Beda

http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-para-beda.html

Tidak ada sesuatu yang sama di dunia ini sekali pun itu anak kembar. Mereka memiliki ciri-ciri yang berbeda. Tiap-tiap  orang  memiliki karakteristik yang berbeda pula. Karena adanya perbedaan tersebut, maka kita harus saling menghormati satu sama lain. Oleh karena itu, kita harus menyadari adanya perbedaan di antara kita agar kita tidak sewenang-wenang terhadap orang lain.

REFLEKSI: Elegi Silaturahim Matematika



Pendapat para ahli mengenai matematika itu berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa matematika itu bersifat aksiomatik. Ada yang mengatakan matematika itu deduktif. Ada pula yang menyatakan matematika itu bersifat sintetik matematika.
Seperti yang telah dicetuskan oleh Aristoteles, Piaget, dan Ernest bahwa matematika itu konstruktivis, maka dalam belajar matematika berarti kita secara mandiri membangun/mengonstruksi pengetahuan-pengetahuan yang kita peroleh.

REFLEKSI: Elegi Seorang Hamba Menggapai Keputusan



setinggi-tingginya ilmu adalah mengambil keputusan. Apabila kita tidak mampu  mengambil keputusan, maka kita tidak memiliki ilmu. Dalam mengambil keputusan tidak boleh tergesa-gesa karena bisa jadi dalam proses pengambilan yang tanpa dipikirkan malah akan menimbulkan prasangka-prasangka yang buruk. Oleh karena itu, dalam mengambil keputusan sebaiknya harus dipikirkan secara matang terlebih dahulu.

REFLEKSI: Elegi Sang Matadara Berusaha Menaklukan Raja-Raja Lokal Dunia Selatan



Mempelajari banyak ilmu tanpa mempelajari filsafat tidaklah lengkap. Apabila kita mengetahui banyak pengetahuan namun kita tidak mempelajari filsafat, maka kita akan lebih mudah dipengaruhi dengan ilmu-ilmu yang menyesatkan yang nantinya hanya akan menghancurkan diri kita sendiri. Jika ilmu filsafat kita tidak kuat, maka hal tersebut juga dapat menyebabkan kita menjadi mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif dari luar. Oleh karena itu, agar kita tidak mudah tergoda oleh godaan-godaan dari luar, maka kita harus menguatkan diri kita salah satunya dengan belajar filsafat.

Selasa, 21 Mei 2013

REFLEKSI: Elegi Menggapai Bijak


Paham ruang dan waktu merupakaan etik dan estetika. Etik dan estetika berkaitan dengan bijak. Jadi bijak dapat diartikan kita paham akan ruang dan waktu. Kita harus memahami sikap, etik, dan estetika kita tentang bijak karena hal tersebut dapat menunjukkan posisi kita di level yang mana. Namun sikap, etik, dan estetika kita tentang bijak tidak selamanya dapat menunjukkan posisi kita.

REFLEKSI: Elegi Merasionalkan Takdir


Takdir adalah ketentuan Allah yang menjadi rahasiaNya dan tidak dapat ditolak oleh manusia. Kita tidak dapat menghindari takdir kita. Kita juga tidak bisa mengatur takdir kita sendiri. Kita harus menerima apa yang menjadi takdir kita dengan ikhlas. Namun kita juga dapat mengubah nasib kita dengan ikhtiar yang kita lakukan sendiri. Dengan artian kita dapat berusaha untuk mengubah takdir kita menjadi lebih baik melalui usaha-usaha  yang kita lakukan.

REFLEKSI: Elegi Menggapai Nilai Diri


Menurut artikel di atas, nilai diri adalah keunikan yang dimiliki tiap orang. Tidak ada satu orang yang sama dengan orang yang lainnya. Tiap-tiap orang memiliki keunikan masing-masing. Namun keunikan yang kita miliki juga dikarenakan peran dari orang lain. Oleh karena itu, tanpa orang lain, kita bukan siapa-siapa. Jadi, nilai diri kita itu juga ditentukan oleh orang lain.
Setinggi-tingginya kegiatan berfikir manusia adalah kegiatan refleksi. Jika pengalaman hidup kita tidak kita refleksikan, maka sama saja bahwa kita tidak memahami arti dari pengalaman-pengalaman tersebut. Orang yang tidak mampu merefleksikan dirinya adalah orang yang merugi.
Dalam menuntut ilmu harus berbekal ilmu. Serendah-rendahnya derajat orang yang mencari ilmu adalah dia yang memanfaatkan ilmunya hanya untuk dirinya sendiri saja. Oleh karena itu, agar kita dapat meningkatkan derjat dalam mencari ilmu maka ilmu yang kita dapat harus dapat dimanfaatkan pula oleh orang lain.

REFLEKSI: Elegi Menggapai Hakekat Senin


Pelajaran yang dapat saya ambil dari artikel di atas adalah dalam menanggapi sebuah persoalan itu antara satu orang dengan orang yang lainnya berbeda tergantung dari cara pandangnya. Ada orang yang menanggapi sebuah persoalan hanya dilihat dari sisi positif atau sisi negatifnya saja. Namun ada pula orang yang melihat suatu persoalan dengan memandang sisi positif dan sisi negatifnya. Dari artikel di atas, kita di ajarkan untuk bersikap bijaksana dan menggunakan akal pikiran kita dalam menanggapi dan mencari jalan keluar atas suatu permasalahan.  

REFLEKSI: Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK


Pada artikel di atas telah diberikan contoh bahwa semisal saya adalah seorang Professor, maka SK Presiden dan penulisan gelar saya di depan nama saya itu pertanda bahwa saya Profesor ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatan saya menulis itu menunjukkan bahwa saya Profesor MENGADA. Jika saya terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanku (karya) itulah maka saya telah mewujudkan diri saya sebagai Profesor PENGADA. Jika saya melakukan plagiat pada karya saya, maka hal tersebut mengancam keberADAan saya sebagai guru sehingga akan terancam pula MENGADA dan PENGADA saya.
Artikel di atas memberikan pelajaran bagi saya agar saya tidak melakukan plagiat. Karena apabila saya melakukan plagiat sama saja sama meniADAkan diri saya sendiri –bukan mengADAkan-. Jika saya tidak ADA maka tidak akan ada pula MENGADA dan PENGADA.

REFLEKSI: Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 4: Kompetensi Matematika juga Menghasilkan Mathematical Intuition


Seperti yang telah dikemukakan dalam artikel diatas bahwa menurut Thompson kompetensi matematika juga menghasilkan matematika intuisi. Karena apabila informasi itu semakin abstrak, maka kemampuan kita untuk beralasan secara logis menjadi aset penting dalam mengembangkan wawasan/pengetahuan sehingga intuisi kita juga akan menjadi lebih luas.

REFLEKSI: Elegi Menggapai "Ideology of Mathematics Education: What are they thinking?"


Menururt artikel di atas, Ernest telah mengidentifikasi empat komponen efek ideologis pendidikan matematika. Pertama, ada rekonseptualisasi pengetahuan dan dampak dari etos manajerialisme dalam komodifikasi dan fetishization pengetahuan. Kedua, ada ideologi progresivisme dengan fetishization atas gagasan kemajuan. Ketiga, ada komponen lebih lanjut dari individualisme yang selain mempromosikan kultus individu dengan mengorbankan masyarakat, juga membantu untuk mempertahankan ideologi konsumerisme. Keempat adalah mitos standar universal dalam penelitian pendidikan matematika, yang dapat mendelegitimasi strategi penelitian bahwa etika tindakan masyarakat dianggap lebih 'pantas' dalam hal riset tradisional.

Minggu, 19 Mei 2013

REFLEKSI Elegi Ritual dan Serba-serbi Unas



Sejatinya, tujuan diadakan Unas adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, namun oleh sebagian besar masyarakat, sekolah, guru, bahkan siswa menggap bahwa Unas peristiwa besar yang berhubungan dengan harga dirinya.
Menurut pendapat saya, Unas tidak perlu diadakan karena Unas tidak efektif. Seperti yang telah dijelaskan dalam artikel di atas, jika guru dan sekolah dapat mengadakan kegiatan penilaian atau assesment dengan baik, maka tidak perlu lagi diadakan Unas. Pada Unas, yang menilai bukan dari gurunya langsung melainkan dari pihak lain yang tidak mendidik siswa secara langsung. Penilaian yang baik adalah penilaian dari gurunya sendiri karena guru paling mengerti prosesnya, perkembangannya, psikologinya, permasalahannya, hariannya, portofolionya, dst. Jadi, Unas tidaklah perlu dilakukan apabila guru dan sekolah bisa mengadakan penilaian yang baik.
Adanya Unas malah menyebabkab sekolah, guru, dan siswa hanya berorientasi pada Unas. Hal ini menyebabkan metode pembelajaran yang diterapkan dalam kegiatan pembelajran adalah metode pembelajaran ala Bimbel yang hanya mengajarkan trik-trik saja, bukan metode pembelajaran yang dapat mestimulus siswa untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka.

REFLEKSI Elegi Pemberontakan Para Obyek

http://powermathematics.blogspot.com/2010/10/elegi-pemberontakan-para-obyek.html


Subyek akan selalu menimpakan sifat-sifat kepada obyeknya, baik disengaja maupun tidak disengaja. Maka sebenar-benar untung adalah menjadi subyek, dan sebenar-benar rugi adalah menjadi obyek. Subyek adalah mereka yang berkuasa. Sedangkan obyek adalah mereka yang dikuasai.  Contoh konkretnya adalah si kaya merupakan subyek, sedangkan si miskin merupakan obyeknya. Si tua merupakan subyek, sedangkan si muda merupakan obyeknya. Si guru adalah subyek, sedangkan si siswa adalah obyeknya. 

REFLEKSI Elegi Pemberontakan Para Etik dan Estetika

http://powermathematics.blogspot.com/2013/01/elegi-pemberontakan-para-etik-dan.html



Etik adalah mengenai Benar dan Salah, sedangkan Estetika adalah mengenai Baik dan Buruk (atau Keindahan). Seseorang bertindak tanpa engetahui hakikat dari apa yang dilaksanakanya maka secara epistemologis hal tersebut adalah salah. Namun hal tersebut dapat menjadi bijaksana secara etik dan estetika apabila ada anak kecil yang bertindak sesuai arahan dari orang tuanya walaupun dia tidak mengetahui konsepnya.
etik dan estetika merupakan dasar dari mitos dan logos. Setinggi-tingginya logos tidak akan mampu mencapai relung etik dan estetika. Oleh karena itu, kita harus mampu menggunakan etik dan estetika kita untuk mengubah mitos menjadi logos. Etik dan estetika tertinggi adalah etik dan estetika absolut (etik dan estetikaNya Allah).

Minggu, 12 Mei 2013

REFLEKSI Elegi Sang Bagawat Menggoda Sarang Lebah

http://powermathematics.blogspot.com/2011/03/elegi-sang-bagawat-menggoda-sarang-lebah.html

Artikel di atas menceritakan tentang kehidupan kerajaan lebah. Di samping kelebihan yang mereka miliki, mereka juga masih memiliki banyak keburukan. Keburukan dari sifat Kerajaan Lebah itu antara lain: bersifat tertutup, bersifat angkuh, anti pembaharuan, menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, anti perubahan, mematenkan eksploitasi, bersifat dominan, bersifat arogan, mengandalkan kekuasaan, komunikasi searah, tidak menghargai tamu, tidak menghargai ide yang lain, mencuri kebaikan orang lain, bersifat penjilat, menekan bawahan, bekerjasama dengan Neopragma Dunia Selatan, menutup telinga dari bisikan baik, bersifat eksklusif, dan protektif. Artikel di atas juga menceritakan tentang anak lebah yang sedang mendapatkan musibah lalu di tolong oleh Begawat dan Cantraka.
Dari cerita tersebut, nilai moral yang dapat kita ambil adalah kta tidak boleh sombong, kita tidak bisa menutup diri kita dari lingkungan luar, kita harus bersosialisasi dengan orang lain karena kita adalah makhluk sosial. Kita juga harus mampu menerima adanya perubahan dari lingkungan kita secara fleksibel. Jika kebaikan dari cerita di atas kita terapkan dalam kegiatan pembelajaran, maka kegiatan pembelajaran tidak lagi tradisional. Guru tidak akan mendominasi kegiatan pembelajaran, guru tidak akan bersikap sombong kepada muridnya, dan pembelajaran juga akan berjalan secara demokratis karena guru tidak akan bersikap otoriter.

REFLEKSI Elegi Pertengkaran Antara Biasa dan Tidak Biasa



Dari artikel di atas disebutkan bahwa isi dari biasa itu adalah melakukan kegiatan yang baik, beramal, berdoa, jujur, disiplin, konsisten, komitmen, beribadah, dst. Oleh karenanya, sebaiknya kita biasakan melakukan hal-hal tersebut. Kemudian isi dari tidak biasa adalah berbohong, berdusta, korupsi, mengfitnah, sombong, berbuat dosa, maksiat, dst. Oleh karena itu, harusnya kita tidak biasakan diri kita untuk melakukan hal-hal tersebut. Berdasarkan artikel tersebut, jelaslah bahwa kita harus memahami dan menyadari arti penting isi dari biasa maupun tidak biasa agar kita dapat senantiasa melakukan kegiatan yang baik.

REFLEKSI Elegi Menggapai "Foundation of Mathematics Education: The Guru of Ernest"



Dalam artikel di atas, Paul Ernest membertikan banyak pertanyaan terkait dengan pendidikan matematika. Kemudian muncul gagasan bahwa fondasi pendidikan matematika itu menyajikan pembenaran mendapatkan status dan dasar bagi pendidikan matematika dalam hal ontologi, epistemologi, dan aksiologinya. Menurut artikel di atas, akan diperoleh landasan ontologis studi dari matematika pendidikan, landasan epistemologis dari pendidikan matematika, dan landasan aksiologis dari pendidikan matematika, atau bisa juga hanya kombinasi 2 landasan di antara ketiga landasan tersebut.

REFLEKSI Elegi Pemberontakan Para Sombong



Di dalam islam, Allah telah memerintahkan hambaNya untuk tidak sombong. Dalam Al-Qur’an pun telah dijelaskan bahwa Allah tidak menyukai hambaNya yang sombong, misalnya dalam surat An Nisaa’: 36, Al Israa’: 37, Luqman: 18, dan Al Hadiid: 23. Dalam Al-Qur’an, Allah juga telah menjelaskan mengenai balasan bagi orang yang berlaku sombong. Ayat-ayat yang diturunkan Allah mengenai balasan orang berlaku sombong salah satunya terdapat dalam surat At Taubah: 25.
Perilaku sombong yang di antaranya percaya diri yang berlebihan, pembangkangan, dan perasaan bangga diri yang berlebihan perlu kita hindari.

Sabtu, 11 Mei 2013

REFLEKSI Elegi Menggapai Pikiran Jernih



Berfilsafat berarti kegiatan refleksi diri terhadap pikiran kita. Dalam belajar filsafat diperlukan pikiran yang jernih. Pikiran yang jernih maksudnya pikiran kita dan apa yang kita pikirkan adalah sesuatu yang jelas. Jika dalam belajar filsafat pikiran kita jernih, maka kita akan mudah paham dengan apa yang kita pelajari. Begitu sebaliknya, apabila dalam berfilsafat pikiran kita tidak jernih, maka akan sulit bagi kita untuk memahami filsafat tersebut.

REFLEKSI Elegi Menggapai Bahasa



Belajar filsafat ternyata juga belajar mengenai bahasa. Analog, univokal, ekuivokal, struktur, lambang, semnatik, dan tautologi termasuk dalam unsur-unsur bahasa. Dalam filsafat, masing-masing unsur memiliki fungsi yang berbeda-beda. Misalnya saja analog. Analog berfungsi untuk menyatakan pikiran melalui bahasa. 

REFLEKSI Elegi Memahami Elegi




Saya mendapatkan pengetahuan baru setelah membaca artikel di atas. Dalam belajar filsafat, seseorang tidak bisa jika hanya membaca satu buku saja. Diperlukan pemahaman yang tepat agar sesorang yang belajar filsafat dapat menyesuaiakan dengan ruang dan  waktunya.
Hidup adalah pilihan. Jadi apabila kita telah menentukan pilihan kita, maka kita harus benar-benar ikhlas dalam menjalankannya agar kita bisa memperoleh manfaat di dunia maupun di akhirat dari apa yang telah kita perbuat tadi. 

Jumat, 10 Mei 2013

REFLEKSI Peta 3 - Peta Pendidikan Dunia _ dibuat oleh Marsigit dari Paul Ernest



Dari artikel di atas, ada beberapa tipe yang dapat dikembangkan dan diterapkan dalam kegiatan pembelajaran saat ini. Salah satu contohnya adalah tipe progressive educator. Dengan diterapkannya metode pembelajaran sesuai dengan tipe ini, maka kreativitas anak akan lebih berkembang. Selain itu, teori mengajar yang digunakan adalah konstruktivisme dan pengembangan sehingga dalam kegiatan pembelajaran anak dilatih agar mampu mengkonstruksi sendiri pemahaman mereka terhadap suatu pengetahuan yang baru mereka dapatkan.

REFLEKSI Peta 2 - Peta Pendidikan Dunia _ Dibuat oleh Marsigit dari Paul Ernest



Dari artikel di atas, kita dapat melihat perbandingan antara industrial trainer, technological pragmatist, old humanist, progressive educator, dan public educator. Kelima tipe tersebut dibedakan berdasarkan theory of society, genesis of student, dan theory of students’ ability. Masing-masing tipe memiliki ciri yang berbeda-beda. Menurut pendapat saya, tipe progressive educator dari kelima tipe tersebut dapat dikembangkan agar dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Tipe progressive educator berorientasi pada siswa sehingga dalam kegiatan pembelajaran, kebutuhan siswa dapat terpenuhi.

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 20: Metafisika Filsafat




Filsafat meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada. diriku merupakan filsafat karena diriku ada. Filsafat dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui metode menerjemahkan dan diterjemahkan. Dalam menuntut ilmu, kita tidak bisa hanya bergantung kepada guru/dosen saja karena guru/dosen tidak bisa terus bersama kita. Matematika, pendidikan matematika, filsafat matematika itu berbeda. Jadi, walaupun kesemuanya adalah ilmu, namun hakikat dari masing-masing ilmu tersebut berbeda.

Sabtu, 04 Mei 2013

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 18: Menggapai Hati Yang Jernih



Hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari segala macam kotoran. Di dalam hati yang bersih terdapat unsur-unsur malaikat sedangkan di dalam hati yang kotor terdapat unsur-unsur iblis atau syaitan. Agar hati kita bersih dan terbebas dari godaan iblis atau pun syaitan, maka kita perlu memohon ampun dan perlindungan kepada Allah. Kita juga harus berdoa agar Allah selalu memberikan ridho kepada kita. Hati yang bersih tidak akan ada kesombongan di dalamnya. Oleh karena itu, di dalam berdoa memohon ampunan, perlindungan, dan ridho dari Allah, kita tidak boleh sombong. Dihadapan Allah kita harus menyadari bahwa kita tidak berdaya tanpa adanya pertolongan dari Allah.

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 17 : Para Bagawat Berlomba Menjunjung Langit



Dari artikel di atas kita dapat mengetahui bahwa begawat adalah semua orang yang merasa mengemban dan mengembangkan ilmu serta mengimplementasikannya. Begawat memiliki tanggung jawab dalam mengemban ilmu sehingga Begawat harus mampu menjaga amanah yang diberikan kepadanya. Begawat juga merupakan seorang yang menjadi panutan bagi kebanyakan orang. Oleh karena itu, Begawat harus mampu memberikan panutan dan contoh yang baik bagi orang lain.

Jumat, 03 Mei 2013

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 19: Tak Mampu Memikirkan Kapan Datangnya Kiamat



Sebagai seorang muslim, kita wajib mengimani adanya hari akhir. Kita tidak tau kapan datangnya hari kiamat, namun sebagai seorang muslim kita diwajibkan untuk mempercayai bahwa hari kiamat itu benar-benar ada. Allah telah berfirman dalam QS An Nisaa’: 136 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” Dalam ayat tersebut telah dijelaskan bahwa orang yang tidak mengimani Allah, malaikat, kitab, qada&qadar, serta hari kiamat, maka dia termasuk orang yang sesat.

~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 45: Bagaimana Matematikawan Mengusir Setan?



Orang yang berilmu akan lebih sulit digoda oleh syaitan. “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Mujaadilah: 11).
Ada pepatah yang mengatakan bahwa “belajarlah dari ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.” Dari pepatah tersebut kita bisa belajar bahwa semestinya semakin banyak ilmu yang kita miliki, maka semakin sedikit kesombongan yang ada pada diri kita. Apabila tidak ada kesombongan dalam diri kita, maka kita akan ikhlas dalam menuntut ilmu maupun dalam berdoa kepada Allah. Kita dapat berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari godaan syaitan. Apabila dalam berdoa kita khusyuk, maka insyaAllah Allah akan mengabulkan doa kita.

~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 44: Kyai Mursidin 2


Artikel di atas menceritakan salah satu perbuatan menyekutukan Allah. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa Ankala telah melakukan kegiatan menyekutukan Allah. Ankala mendapatkan godaan syaitan karena dia tidak ikhlas dalam berdoa kepada Allah. Allah telah berfirman dalam QS Al Kahfi: 44 yang artinya: “Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.” Jadi jelaslah bahwa hanya Allah lah yang mampu memberikan pertolongan kepada manusia. Dan pertolongan Allah adalah benar.



Kamis, 02 Mei 2013

~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 43: Kyai Mursidin 1




Seorang yang ikhlas dalam berdoa hanya akan memohon dan meminta kepada Allah semata. Mereka tidak akan terpengaruh oleh bisikan-bisikan syaitan dan mereka juga tidak akan menyekutukan Allah. Allah telah berfirman dalam QS Al An’aam: 71, yang artinya [Katakanlah: ‘Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): ‘Marilah ikuti kami.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam’]. Dari potongan ayat tersebut menunjukkan bahwa perbuatan syirik atau pun menyekutukan Allah tidak akan memberikan manfaat kepada kita. Allah juga telah berfirman dalam QS Al-Mu’min: 40 yang artinya, “Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” Melalui ayat tersebut kita diperintahkan untuk menyembah hanya kepada Allah karena hanya Allah-lah yang berhak disembah dan hanya Allah-lah yang dapat hidup kekal. Jadi janganlah sekali-kali kita berniat atau pun melakukan perbuatan menyekutukan Allah tidak ada yang kekal, kecuali Allah.

~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 42: Mengubah Mitos menjadi Logos




Sombong berarti mitos. Untuk menghilangkan mitos dalam diri dan mengubahnya menjadi logos, maka kita perlu bertawakal kepada Allah. Apabila kita telah berhasil mengubah mitos menjadi logos, namun kita masik menyebutkan kata logosku maka sebenar-benarnya masih ada kesombongan dalam diri kita. Sombong adalah perbuatan syaitan dan merupakan perbuatan dosa yang terberat. Kesombongan hanya akan hilang melalui pertolongan dari Allah. Dan keakuanku hanya akan hilang dengan rahmat dan hidayah Allah. Oleh karena itu, kita perlu memantapkan hati kita sebagai komandan kita agar Allah senantiasa memberikan rahmat dan hidayahNya kepada kita. Amiinn.

~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 41: Balas Dendam Syaitan Terhadap Matematikawan


Syaitan dapat menyusup ke pikiran seseorang dikarenakan ada kesombongan di dalam diri mereka. Syaitan memengaruhi pikiran manusia bahwasanya segala apa yang ada di dunia maupun di akhirat bisa mereka pikirkan. Padahal mereka telah mengetahui bahwa pikiran mereka itu terbatas. Kesombongan manusia dapat menyebabkan mereka lupa diri bahkan lupa kepada Tuhannya. Oleh karena itu, agar manusia terhindar dari sifat atau pun perilaku sombong, maka hendaknya mereka selalu berdoa kepada Allah dan memohon agar dihindarkan dari perilaku sombong.

~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 40: Berguru Kepada Imam Al-Ghazali untuk Meningkatkan Kualitas Spiritual (Islam)



Jika seseorang ingin shalat dengan kusyuk, maka ia harus berzikir terlebih dahulu. Dengan berzikir hati menjadi tenteram. Allah telah berfirman dalam QS. Ar- Ra’d: 28 yang artinya: "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." Di antara zikir yang utama adalah Laa ilaaha illallahu (Tidak ada Tuhan selain Allah). "Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: 'Zikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallahu" (HR Turmudzi).
Apabila kita sudah berzikir namun kita masih belum bisa khusyuk dalam shalat, maka kita masih perlu untuk membersihkan hati kita. Kita harus mampu memerangi penyakit-penyakit hati yang ada dalam diri kita. Oleh karena itu, kita harus senantiasa berzikir, mengingat Allah, dan memohon perlindungan kepada Allah agar senantiasa dilindungi dan dijauhkan dari godaan syaitan.

~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 39: Menggapai Sepi




Sepi tidak dapat kita raih jka kita masih mengaku-aku diri kita. Jika kita mulai bersuaru dan ketika suara itu diucapkan dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, terdengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubu tetapi suara itu jugaterdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Maka terasa ditemukan dunia dan di luar dunia penuh dengan suara itu. Di dalam kesepian telah ditemukan ramai luar biasa. Sebenarnya sepi adalah doa-doaku tanpa keakuanku dan juga doa-doamu tanpa keakuanmu. Dalam berdoa yang ada hanya keikhlasan hati, bukan keakuanku atau pun keakuanmu.

~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 38 : Menggapai Pikiran Ikhlas




Dari artikel di atas disebutkan bahwa ikhlas dalam pikiran seseorang adalah kesediaan dan kesiapan seseorang membuat anti-tesis dari pengetahuannya dan juga kesediaan dan kesiapan seseorang membuat sintesis antara tesis dan anti-tesis. Ilmu itu dimulai dengan bertanya. Apa yang belum kita ketahui sebelumnya kemudian kita tanyakan kepada orang lain yang sekiranya dapat memberikan jawaban kepada kita, maka sesuatu yang kita tanyakan tersebut akan menjadi ilmu/pengetahuan baru bagi kita. Semakin banyak kita bertanya maka akan semakin banyak pula ilmu yang akan kita peroleh.

~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 37: Ketika Pikiranku Tak Berdaya




Pikiran manusia itu terbatas. Tidak semua hal dapat dipikirkan oleh manusia. segala kekuasaan adalah miliki Allah semata. Lahir, mati, dan jodoh, semua itu ditangan Allah. Yang perlu kita lakukan adalah senantiasa berdoa dan berikhtiar, memasrahkan semuanya kepada Allah. Sekecil apapun persoalan kita, sebaiknya kita menyerahkannya kepada Allah. Disamping itu kita juga harus senantiasa sabar dan selalu berdoa dengan khusyuk kepada Allah. Allah selalu mendengarkan doa-doa hambanya dan akan mengabulkan permohonan hambanya yang khusyuk dalam berdoa.

REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 36: Menggapai Tidak Risau




Segala apa yang kita peroleh hingga saat ini merupakan rizki dari Allah. Kita wajib mensyukuri semua yang telah Allah berikan, apapun itu. Allah berfirman dalam QS Asy-Syura: 23, yang artinya: “Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.’ Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” Allah tidak menyukai hamba-hambaNya yang kufur nikmat. Jika kita selalu mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita, maka kita tidak akan merasa risau karena kita telah memasrahkan kepada Allah semua hasil yang akan kita dapatkan atas ikhtiar kita. Sesungguhnya semua yang telah Allah berikan kepada kita adalah yang terbaik bagi kita.

~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 35: Cendekia yang ber Nurani




Dalam melakukan usaha agar kita dapat menjunjung langit maka kita harus bernurani dan cendekia. Bernurani adalah ikhlas dalam hati dan cendekia adalah kritis dalam pikiran.  Pemenang dari perlombaan menjunjung langit adalah mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritis. Sebenarnya ikhlas dan berpikir kritis itu absolut milik Allah. Kita sebagai manusia hanya dapat berusaha untuk mampu menggapai ikhlas dan berpikir kritis tersebut. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang mampu menjunjung langit, kecuali atas izin dasn ridho Allah.