Dalam filsafat hidup orang Indonesia, orang Indonesia cenderung memikirkan hal-hal yang konkret dan sifatnya kuantitatif baru kemudian memikirkan hal-hal yang abstrak dan sifatnya kualitatif. Orang Indonesia cenderung memikirkan hal-hal yang terlihat secara fisik (yang dapat terlihat oleh indera penglihatan) terlebih dahulu baru kemudian memikirkan hal-hal yang non-fisik. Misalnya saja, ada seorang pengusaha dan seorang pemulung. Si pengusaha merupakan orang yang telah memiliki materi yang banyak sedangkan si pemulung, materi yang dimilikinya hanya cukup untuk ia dan keluarganya makan selama satu hari. Karena si pengusaha telah berkecukupan dalam hal materi, maka hal yang kemudian dia pikirkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan hubungan sosial dengan orang lain, kemudian berlanjut ke menjadi seorang pemikir yang mampu mencetuskan ide-ide kreatif bagi pekerjaannya, kemudian dia akan memikirkan filsafat hidupnya, baru kemudian dia akan memikirkan hal-hal spritual yang berkaitan dengan Tuhannya. Berbeda dengan si pemulung tadi. Dia tidak akan repot-repot memikirkan hubungan sosialnya dengan orang lain karena dia sendiri sudah cukup penat dengan urusan pribadinya sendiri. Dia juga belum terlalu memikirkan hubungan spiritualnya dengan Tuhan karena dia masih terlalu memikirkan kebutuhan duniawinya.
Jumat, 31 Mei 2013
REFLEKSI: Kutarunggu Sang Stigmaraja Transendenta
Pelajaran yang saya peroleh dari artikel di atas adalah janganlah kita menyerah jika kita mengalami kegagalan. Kegagalan itu biasa namun bagaimana kita bisa bangkit dari kegagalan itu baru luar biasa. Kita tidak boleh berpikiran untuk mengakhiri hidup kita hanya karena kita selalu gagal. Kegagalan adalah awal dari keberhasilan. Kegagalan merupakan salah satu cobaan yang diberikan Allah kepada umatnya agar dia dapat menjadi pribadi yang kuat karena sesungguhnya Allah lebih menyukai muslim yang kuat daripada muslim yang lemah. Baik kuat secara fisik maupun kuat secara mental. Oleh karena itu, apabila kita mangalami kegagalan, kita tidak boleh terlalu terlarut dalam kesedihan. Kita harus mampu bangkit dan berusaha lebih baik lagi untuk dapat mencapai keberhasilan kita.
Kamis, 30 Mei 2013
REFLEKSI: Elegi Menggapai Awal dan Akhir Kedua
http://powermathematics.blogspot.com/2010/07/elegi-menggapai-awal-dan-akhir-kedua.html
Di dunia ini, sesuatu yang berawal pasti akan berakhir
karena dunia ini bersifat fana atau sementara. Terjadinya jagat raya ini,
dahulunya ada awalnya dan akhirnya kelak adalah terjadinya kiamat. Manusia hanya
hidup sementara di dunia ini. Manusia mengawali hidupnya sewaktu dia ada dikandungan
ibunya dan mengakhiri hidupnya jika dia sudah meninggal. Jadi sesuatu yang
tidak kekal/abadi pasti akan berakhir.
Rabu, 29 Mei 2013
REFLEKSI: Elegi Menggapai Awal
http://powermathematics.blogspot.com/2010/07/elegi-menggapai-awal.html
Dari artikel di atas, banyak yang mengartikan tentang awal. Menurut analitik, awal adalah anggapan awal “(pre-assumption). Menurut pengalaman, awal adalah kesadaran dan menurut vitalitas, awal adalah potensi. Awal menurut awal itu berifat kontradiktif. Awal bisa berarti ada, namun bisa juga berarti keputusan.
Dari artikel di atas, banyak yang mengartikan tentang awal. Menurut analitik, awal adalah anggapan awal “(pre-assumption). Menurut pengalaman, awal adalah kesadaran dan menurut vitalitas, awal adalah potensi. Awal menurut awal itu berifat kontradiktif. Awal bisa berarti ada, namun bisa juga berarti keputusan.
REFLEKSI: Elegi Persiapan Selamatan Raja Purna
Kekuasaan absolut itu adalah kekuasaan Allah. Setinggi-tingginya kekuasaan raja di dunia ini, masih tinggi kekuasaan Allah. Allah lah yang menguasai seluruh alam semesta ini. Raja adalah makhluk ciptaan Allah. Dan sebagai makhluk ciptaan Allah, raja ajib menyembah dan patuh kepada Allah. Sebagai seorang manusia biasa, raja dan kita pada umumnya tidak boleh terlalu berlebihan dengan mengagung-agungkan kekuasaan yang kita miliki. Ada pepatah yang berbunyi “di atas langit masih ada langit.” Mungkin pepatah tersebut bisa kita jadikan pedoman agar kita tidak sombong karena walaupun kita menganggap diri kita itu hebat namun masih ada orang lain yang lebih hebat daripada kita. Oleh karena itu, kita tidak boleh menyombongkan kekuasaan yang kita miliki karena kekuasaan absolut itu hanya milik Allah.
REFLEKSI: Hakekat Kurikulum_Diresensi oleh Marsigit
Dari tabel pada artikel di atas, terdapat tiga pembagian
kurikulum, yaitu instrumental curriculum, interactive curriculum, dan individualistic
curriculum. Ketiga kurikulum tersebut memiliki perbedaan satu sama lainnya.
Pada masing-masing kurikulum tentu juga memiliki kelebihan dan kekurangannya
sendiri-sendiri. Dalam iinstrumental kurikulum, guru sebagai penerima pasif. Dalam
nteractive curriculum, guru merupakan peserta.
Sedangkan dalam individualistik curriculum, guru sebagi bertindak
pengembang.
Minggu, 26 Mei 2013
REFLEKSI: Menggapai Guru yang Sustainabel _ Photo by Marsigit
Dari foto di atas kita dapat melihat bahwa pembelajaran di kelas tersebut sangat
efektif. Kegiatan pembelajaran dilakukan melalui kegiatan Lesson Study. Guru bekerja sama dengan pihak dari luar yang
merupakan ahli atau pakar di bidang pendidikan. Kegiatan Lesson Study ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas
komponen-komponen pembentuk sistem pendidikan, salah satunya Lesson Plan.
REFLEKSI: Traditional - Innovative Teaching _ Oleh Marsigit
Seperti yang telah kita lihat saat ini, pembelajaran di Indonesia
masih sangat tradisional.Hal ini tentunya masih menjadi suatu masalah. Pembelajaran
tradisional seakan telah membudaya dan pasti akan sangat sulit untuk
mengubahnya. Pembelajaran tradisional merupakan kegiatan pembelajaran yang
hanya men-transfer pengetahuan dari
guru ke murid saja. Hal ini sangat tidak baik. Seharusnya siswa dapat
mengkonstruksi sendiri pengetahuan-pengetahuan yang baru mereka dapat agar
lebih mandiri. Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru agar siswa dapat
mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka adalah dengan mengubah metode
pembelajarannya yang semula tradisional diubah ke metode inovatif.
REFLEKSI: Menggapai Guru yang Akuntabel (dapat dipercaya) _ Photo oleh CRICED
Dari foto di atas, kita dapat melihat bahwa guru tersebut adalah
guru yang akuntabel. Dalam kegiatan pembelajaran, mereka sangat terbuka. Hal
ini terbukti dari banyaknya observer yang mengamati jalannya proses pembelajaran.
Walaupun ada banyak observer, namun murid-murid tetap enjoy dalam belajar. Melalui kegiatan ini, menandakan bahwa guru
dapat dipercaya. Guru dapat menunjukkan kepada murid-muridnya dan kepada
observer mengenai sumber belajar dan metode pembelajaran yang ia gunakan.
REFLEKSI: Elegi Sang Bagawat Menggapai Kesempatan
Kesempatan aadalah gidup dan hidup adalah kesempatan. Tanpa
adanya kesempatan maka seseorang dapat dikatakan tidak hidup. Hidup seseorang
adalah karena hidup orang lain. Hati seseorang adalah jiwa orang itu. Hti
seseorang merupakan hidup orang tersebut, maka hidupnya adalah hatinya. Sebenar-benarnya
hidup adalah memberi dan diberi kesempatan. Misalnya seorang guru yang meraih
kesempatan adalah dia yang mampu hidup dan menghidupkan muridnya sehingga
muridnya juga akan menggapai kesempatan pula.
Jumat, 24 Mei 2013
REFLEKSI: Elegi Menggapai Pengetahuan Obyektif
pengetahuan objektif ialah persepsi, analisis, tesis, pendapat, metode, dan kesimpulan yang benar. Objektif berarti benar-benar sesuai dengan kenyataan. Jadi, kita menilai sesuatu atau seseorang itu berdasarkan kenyataan, bukan berdasarkan faktor subjektivitas.
REFLEKSI: Elegi Perbincangan Para Sama
Sama absolut itu adalah milik dan kuasa Tuhan. Setinggi-tingginya sama yang mampu dipikirkan oleh manusia adalah sama relatif. Dalam agama islam, manusia memiliki derajat yang sama dihadapan Allah, hanya saja amal dari orang tersebut saja yang membedakannya. Selain itu, karakteristik antara orang yang satu dengan yang lainnya juga tidak sama.
Kamis, 23 Mei 2013
REFLEKSI: Elegi Konferensi Para Beda
Setiap individu memiliki ciri khas masing-masing. Karakteristik anatar individu yang satu dengan individu lainnya adalah tidak sama. Dalam kegiatan pembelajaran misalnya, antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya memiliki karakteristik yang berbeda. Ada anak yang cara berpikirnya cepat dan ada pula anak yang cara berpikirnya lambat. Ada anak yang lebih senang belajar dengan menggunakan metode diskusi, ada pula anak yang lebih senang belajar dengan menggunakan metode tanya jawab. Oleh karena itu, kita tidak bisa menyamakan antara sattu siswa dengan siswa lainnya karena pada dasarnya karakteristik tiap-tiap siswa berbeda.
REFLEKSI: Elegi Pemberontakan Para Beda
http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-para-beda.html
Tidak ada sesuatu yang sama di dunia ini sekali pun itu anak kembar. Mereka memiliki ciri-ciri yang berbeda. Tiap-tiap orang memiliki karakteristik yang berbeda pula. Karena adanya perbedaan tersebut, maka kita harus saling menghormati satu sama lain. Oleh karena itu, kita harus menyadari adanya perbedaan di antara kita agar kita tidak sewenang-wenang terhadap orang lain.
REFLEKSI: Elegi Silaturahim Matematika
Pendapat para ahli mengenai matematika itu
berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa matematika itu bersifat aksiomatik. Ada
yang mengatakan matematika itu deduktif. Ada pula yang menyatakan matematika
itu bersifat sintetik matematika.
Seperti yang telah dicetuskan oleh Aristoteles,
Piaget, dan Ernest bahwa matematika itu konstruktivis, maka dalam belajar
matematika berarti kita secara mandiri membangun/mengonstruksi
pengetahuan-pengetahuan yang kita peroleh.
REFLEKSI: Elegi Seorang Hamba Menggapai Keputusan
setinggi-tingginya ilmu adalah mengambil
keputusan. Apabila kita tidak mampu
mengambil keputusan, maka kita tidak memiliki ilmu. Dalam mengambil
keputusan tidak boleh tergesa-gesa karena bisa jadi dalam proses pengambilan
yang tanpa dipikirkan malah akan menimbulkan prasangka-prasangka yang buruk.
Oleh karena itu, dalam mengambil keputusan sebaiknya harus dipikirkan secara
matang terlebih dahulu.
REFLEKSI: Elegi Sang Matadara Berusaha Menaklukan Raja-Raja Lokal Dunia Selatan
Mempelajari banyak ilmu tanpa mempelajari
filsafat tidaklah lengkap. Apabila kita mengetahui banyak pengetahuan namun
kita tidak mempelajari filsafat, maka kita akan lebih mudah dipengaruhi dengan
ilmu-ilmu yang menyesatkan yang nantinya hanya akan menghancurkan diri kita
sendiri. Jika ilmu filsafat kita tidak kuat, maka hal tersebut juga dapat
menyebabkan kita menjadi mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif dari luar. Oleh
karena itu, agar kita tidak mudah tergoda oleh godaan-godaan dari luar, maka
kita harus menguatkan diri kita salah satunya dengan belajar filsafat.
Selasa, 21 Mei 2013
REFLEKSI: Elegi Menggapai Bijak
Paham ruang dan waktu merupakaan etik dan
estetika. Etik dan estetika berkaitan dengan bijak. Jadi bijak dapat diartikan
kita paham akan ruang dan waktu. Kita harus memahami sikap, etik, dan estetika
kita tentang bijak karena hal tersebut dapat menunjukkan posisi kita di level
yang mana. Namun sikap, etik, dan estetika kita tentang bijak tidak selamanya
dapat menunjukkan posisi kita.
REFLEKSI: Elegi Merasionalkan Takdir
Takdir adalah ketentuan Allah yang menjadi
rahasiaNya dan tidak dapat ditolak oleh manusia. Kita tidak dapat menghindari
takdir kita. Kita juga tidak bisa mengatur takdir kita sendiri. Kita harus
menerima apa yang menjadi takdir kita dengan ikhlas. Namun kita juga dapat
mengubah nasib kita dengan ikhtiar yang kita lakukan sendiri. Dengan artian
kita dapat berusaha untuk mengubah takdir kita menjadi lebih baik melalui
usaha-usaha yang kita lakukan.
REFLEKSI: Elegi Menggapai Nilai Diri
Menurut
artikel di atas, nilai diri adalah keunikan yang dimiliki tiap orang. Tidak ada
satu orang yang sama dengan orang yang lainnya. Tiap-tiap orang memiliki
keunikan masing-masing. Namun keunikan yang kita miliki juga dikarenakan peran
dari orang lain. Oleh karena itu, tanpa orang lain, kita bukan siapa-siapa. Jadi,
nilai diri kita itu juga ditentukan oleh orang lain.
Setinggi-tingginya
kegiatan berfikir manusia adalah kegiatan refleksi. Jika pengalaman hidup kita
tidak kita refleksikan, maka sama saja bahwa kita tidak memahami arti dari
pengalaman-pengalaman tersebut. Orang yang tidak mampu merefleksikan dirinya
adalah orang yang merugi.
Dalam menuntut
ilmu harus berbekal ilmu. Serendah-rendahnya derajat orang yang mencari ilmu
adalah dia yang memanfaatkan ilmunya hanya untuk dirinya sendiri saja. Oleh
karena itu, agar kita dapat meningkatkan derjat dalam mencari ilmu maka ilmu
yang kita dapat harus dapat dimanfaatkan pula oleh orang lain.
REFLEKSI: Elegi Menggapai Hakekat Senin
Pelajaran yang dapat saya ambil dari artikel di atas adalah dalam
menanggapi sebuah persoalan itu antara satu orang dengan orang yang lainnya
berbeda tergantung dari cara pandangnya. Ada orang yang menanggapi sebuah
persoalan hanya dilihat dari sisi positif atau sisi negatifnya saja. Namun ada
pula orang yang melihat suatu persoalan dengan memandang sisi positif dan sisi
negatifnya. Dari artikel di atas, kita di ajarkan untuk bersikap bijaksana dan
menggunakan akal pikiran kita dalam menanggapi dan mencari jalan keluar atas
suatu permasalahan.
REFLEKSI: Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK
Pada artikel di atas telah diberikan contoh
bahwa semisal saya adalah seorang
Professor, maka SK Presiden dan penulisan gelar saya di depan nama saya itu
pertanda bahwa saya Profesor ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatan saya menulis itu
menunjukkan bahwa saya Profesor MENGADA. Jika saya terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanku
(karya) itulah maka saya telah mewujudkan diri saya sebagai Profesor PENGADA. Jika
saya melakukan plagiat pada karya saya, maka hal tersebut mengancam keberADAan
saya sebagai guru sehingga akan terancam pula MENGADA dan PENGADA saya.
Artikel di atas memberikan pelajaran bagi saya
agar saya tidak melakukan plagiat. Karena apabila saya melakukan plagiat sama
saja sama meniADAkan diri saya sendiri –bukan mengADAkan-. Jika saya tidak ADA
maka tidak akan ada pula MENGADA dan PENGADA.
REFLEKSI: Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 4: Kompetensi Matematika juga Menghasilkan Mathematical Intuition
Seperti yang telah
dikemukakan dalam artikel diatas bahwa menurut Thompson kompetensi matematika
juga menghasilkan matematika intuisi. Karena
apabila informasi itu semakin abstrak, maka kemampuan kita untuk beralasan
secara logis menjadi aset penting dalam mengembangkan wawasan/pengetahuan sehingga
intuisi kita juga akan menjadi lebih luas.
REFLEKSI: Elegi Menggapai "Ideology of Mathematics Education: What are they thinking?"
Menururt artikel di atas, Ernest telah
mengidentifikasi empat komponen efek ideologis pendidikan matematika. Pertama,
ada rekonseptualisasi pengetahuan dan dampak dari etos manajerialisme dalam
komodifikasi dan fetishization pengetahuan. Kedua, ada ideologi progresivisme
dengan fetishization atas gagasan kemajuan. Ketiga, ada komponen lebih lanjut
dari individualisme yang selain mempromosikan kultus individu dengan
mengorbankan masyarakat, juga membantu untuk mempertahankan ideologi
konsumerisme. Keempat adalah mitos standar universal dalam penelitian
pendidikan matematika, yang dapat mendelegitimasi strategi penelitian bahwa
etika tindakan masyarakat dianggap lebih 'pantas' dalam hal riset tradisional.
Minggu, 19 Mei 2013
REFLEKSI Elegi Ritual dan Serba-serbi Unas
Sejatinya, tujuan diadakan Unas adalah untuk
meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, namun oleh sebagian besar masyarakat,
sekolah, guru, bahkan siswa menggap bahwa Unas peristiwa besar yang berhubungan
dengan harga dirinya.
Menurut pendapat saya, Unas tidak perlu
diadakan karena Unas tidak efektif. Seperti yang telah dijelaskan dalam artikel
di atas, jika guru dan sekolah dapat mengadakan kegiatan penilaian atau assesment dengan baik, maka tidak perlu
lagi diadakan Unas. Pada Unas, yang menilai bukan dari gurunya langsung
melainkan dari pihak lain yang tidak mendidik siswa secara langsung. Penilaian
yang baik adalah penilaian dari gurunya sendiri karena guru paling mengerti
prosesnya, perkembangannya, psikologinya, permasalahannya, hariannya,
portofolionya, dst. Jadi, Unas tidaklah perlu dilakukan apabila guru dan
sekolah bisa mengadakan penilaian yang baik.
Adanya Unas malah menyebabkab sekolah, guru,
dan siswa hanya berorientasi pada Unas. Hal ini menyebabkan metode pembelajaran
yang diterapkan dalam kegiatan pembelajran adalah metode pembelajaran ala
Bimbel yang hanya mengajarkan trik-trik saja, bukan metode pembelajaran yang
dapat mestimulus siswa untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka.
REFLEKSI Elegi Pemberontakan Para Obyek
http://powermathematics.blogspot.com/2010/10/elegi-pemberontakan-para-obyek.html
Subyek akan selalu menimpakan sifat-sifat
kepada obyeknya, baik disengaja maupun tidak disengaja. Maka sebenar-benar
untung adalah menjadi subyek, dan sebenar-benar rugi adalah menjadi obyek. Subyek adalah mereka yang berkuasa.
Sedangkan obyek adalah mereka yang dikuasai.
Contoh konkretnya adalah si kaya merupakan subyek, sedangkan si miskin
merupakan obyeknya. Si tua merupakan
subyek, sedangkan si muda merupakan obyeknya. Si guru adalah subyek, sedangkan
si siswa adalah obyeknya.
REFLEKSI Elegi Pemberontakan Para Etik dan Estetika
http://powermathematics.blogspot.com/2013/01/elegi-pemberontakan-para-etik-dan.html
Etik adalah mengenai Benar dan Salah, sedangkan
Estetika adalah mengenai Baik dan Buruk (atau Keindahan). Seseorang bertindak
tanpa engetahui hakikat dari apa yang dilaksanakanya maka secara epistemologis
hal tersebut adalah salah. Namun hal tersebut dapat menjadi bijaksana secara
etik dan estetika apabila ada anak kecil yang bertindak sesuai arahan dari
orang tuanya walaupun dia tidak mengetahui konsepnya.
etik dan estetika merupakan dasar dari mitos
dan logos. Setinggi-tingginya logos tidak akan mampu mencapai relung etik dan
estetika. Oleh karena itu, kita harus mampu menggunakan etik dan estetika kita
untuk mengubah mitos menjadi logos. Etik dan estetika tertinggi adalah etik dan
estetika absolut (etik dan estetikaNya Allah).
Minggu, 12 Mei 2013
REFLEKSI Elegi Sang Bagawat Menggoda Sarang Lebah
http://powermathematics.blogspot.com/2011/03/elegi-sang-bagawat-menggoda-sarang-lebah.html
Artikel di atas
menceritakan tentang kehidupan kerajaan lebah. Di samping kelebihan yang mereka
miliki, mereka juga masih memiliki banyak keburukan. Keburukan dari sifat Kerajaan Lebah itu antara
lain: bersifat tertutup, bersifat angkuh, anti pembaharuan, menganggap
seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, anti perubahan, mematenkan
eksploitasi, bersifat dominan, bersifat arogan, mengandalkan kekuasaan,
komunikasi searah, tidak menghargai tamu, tidak menghargai ide yang lain,
mencuri kebaikan orang lain, bersifat penjilat, menekan bawahan, bekerjasama
dengan Neopragma Dunia Selatan, menutup telinga dari bisikan baik, bersifat
eksklusif, dan protektif. Artikel di atas juga menceritakan tentang anak lebah
yang sedang mendapatkan musibah lalu di tolong oleh Begawat dan Cantraka.
Dari cerita tersebut, nilai moral yang dapat kita
ambil adalah kta tidak boleh sombong, kita tidak bisa menutup diri kita dari lingkungan
luar, kita harus bersosialisasi dengan orang lain karena kita adalah makhluk
sosial. Kita juga harus mampu menerima adanya perubahan dari lingkungan kita secara
fleksibel. Jika kebaikan dari cerita di atas kita terapkan dalam kegiatan
pembelajaran, maka kegiatan pembelajaran tidak lagi tradisional. Guru tidak
akan mendominasi kegiatan pembelajaran, guru tidak akan bersikap sombong kepada
muridnya, dan pembelajaran juga akan berjalan secara demokratis karena guru
tidak akan bersikap otoriter.
REFLEKSI Elegi Pertengkaran Antara Biasa dan Tidak Biasa
Dari artikel di atas disebutkan bahwa isi dari biasa
itu adalah melakukan kegiatan yang baik, beramal, berdoa, jujur, disiplin, konsisten,
komitmen, beribadah, dst. Oleh karenanya, sebaiknya kita biasakan melakukan
hal-hal tersebut. Kemudian isi dari tidak biasa adalah berbohong, berdusta,
korupsi, mengfitnah, sombong, berbuat dosa, maksiat, dst. Oleh karena itu, harusnya
kita tidak biasakan diri kita untuk melakukan hal-hal tersebut. Berdasarkan
artikel tersebut, jelaslah bahwa kita harus memahami dan menyadari arti penting
isi dari biasa maupun tidak biasa agar kita dapat senantiasa melakukan kegiatan
yang baik.
REFLEKSI Elegi Menggapai "Foundation of Mathematics Education: The Guru of Ernest"
Dalam artikel di
atas, Paul Ernest membertikan banyak pertanyaan terkait dengan pendidikan
matematika. Kemudian muncul gagasan bahwa fondasi pendidikan matematika itu menyajikan
pembenaran mendapatkan status dan dasar bagi pendidikan matematika dalam hal
ontologi, epistemologi, dan aksiologinya. Menurut artikel di atas, akan
diperoleh landasan ontologis studi dari matematika pendidikan, landasan epistemologis
dari pendidikan matematika, dan landasan aksiologis dari pendidikan matematika,
atau bisa juga hanya kombinasi 2 landasan di antara ketiga landasan tersebut.
REFLEKSI Elegi Pemberontakan Para Sombong
Di dalam islam, Allah
telah memerintahkan hambaNya untuk tidak sombong. Dalam Al-Qur’an pun telah
dijelaskan bahwa Allah tidak menyukai hambaNya yang sombong, misalnya dalam
surat An Nisaa’: 36, Al Israa’: 37, Luqman: 18, dan Al Hadiid: 23. Dalam
Al-Qur’an, Allah juga telah menjelaskan mengenai balasan bagi orang yang berlaku
sombong. Ayat-ayat yang diturunkan Allah mengenai balasan orang berlaku sombong
salah satunya terdapat dalam surat At Taubah: 25.
Perilaku sombong yang
di antaranya percaya diri yang berlebihan, pembangkangan, dan perasaan bangga
diri yang berlebihan perlu kita hindari.
Sabtu, 11 Mei 2013
REFLEKSI Elegi Menggapai Pikiran Jernih
Berfilsafat berarti kegiatan
refleksi diri terhadap pikiran kita. Dalam belajar filsafat diperlukan pikiran
yang jernih. Pikiran yang jernih maksudnya pikiran kita dan apa yang kita
pikirkan adalah sesuatu yang jelas. Jika dalam belajar filsafat pikiran kita
jernih, maka kita akan mudah paham dengan apa yang kita pelajari. Begitu
sebaliknya, apabila dalam berfilsafat pikiran kita tidak jernih, maka akan
sulit bagi kita untuk memahami filsafat tersebut.
REFLEKSI Elegi Menggapai Bahasa
Belajar filsafat
ternyata juga belajar mengenai bahasa. Analog, univokal, ekuivokal, struktur,
lambang, semnatik, dan tautologi termasuk dalam unsur-unsur bahasa. Dalam
filsafat, masing-masing unsur memiliki fungsi yang berbeda-beda. Misalnya saja
analog. Analog berfungsi untuk menyatakan pikiran melalui bahasa.
REFLEKSI Elegi Memahami Elegi
Saya mendapatkan
pengetahuan baru setelah membaca artikel di atas. Dalam belajar filsafat,
seseorang tidak bisa jika hanya membaca satu buku saja. Diperlukan pemahaman
yang tepat agar sesorang yang belajar filsafat dapat menyesuaiakan dengan ruang
dan waktunya.
Hidup adalah pilihan.
Jadi apabila kita telah menentukan pilihan kita, maka kita harus benar-benar
ikhlas dalam menjalankannya agar kita bisa memperoleh manfaat di dunia maupun
di akhirat dari apa yang telah kita perbuat tadi.
Jumat, 10 Mei 2013
REFLEKSI Peta 3 - Peta Pendidikan Dunia _ dibuat oleh Marsigit dari Paul Ernest
Dari artikel di atas,
ada beberapa tipe yang dapat dikembangkan dan diterapkan dalam kegiatan
pembelajaran saat ini. Salah satu contohnya adalah tipe progressive educator. Dengan diterapkannya metode pembelajaran
sesuai dengan tipe ini, maka kreativitas anak akan lebih berkembang. Selain
itu, teori mengajar yang digunakan adalah konstruktivisme dan pengembangan
sehingga dalam kegiatan pembelajaran anak dilatih agar mampu mengkonstruksi
sendiri pemahaman mereka terhadap suatu pengetahuan yang baru mereka dapatkan.
REFLEKSI Peta 2 - Peta Pendidikan Dunia _ Dibuat oleh Marsigit dari Paul Ernest
Dari artikel di atas,
kita dapat melihat perbandingan antara industrial
trainer, technological pragmatist, old humanist, progressive educator, dan public educator. Kelima tipe tersebut
dibedakan berdasarkan theory of society,
genesis of student, dan theory of
students’ ability. Masing-masing tipe memiliki ciri yang berbeda-beda.
Menurut pendapat saya, tipe progressive
educator dari kelima tipe tersebut dapat dikembangkan agar dapat diterapkan
dalam kegiatan pembelajaran. Tipe progressive
educator berorientasi pada siswa sehingga dalam kegiatan pembelajaran,
kebutuhan siswa dapat terpenuhi.
REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 20: Metafisika Filsafat
Filsafat meliputi
semua yang ada dan yang mungkin ada. diriku merupakan filsafat karena diriku
ada. Filsafat dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui metode
menerjemahkan dan diterjemahkan. Dalam menuntut ilmu, kita tidak bisa hanya
bergantung kepada guru/dosen saja karena guru/dosen tidak bisa terus bersama
kita. Matematika, pendidikan matematika, filsafat matematika itu berbeda. Jadi,
walaupun kesemuanya adalah ilmu, namun hakikat dari masing-masing ilmu tersebut
berbeda.
Sabtu, 04 Mei 2013
REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 18: Menggapai Hati Yang Jernih
Hati yang bersih
adalah hati yang terbebas dari segala macam kotoran. Di dalam hati yang bersih
terdapat unsur-unsur malaikat sedangkan di dalam hati yang kotor terdapat
unsur-unsur iblis atau syaitan. Agar hati kita bersih dan terbebas dari godaan
iblis atau pun syaitan, maka kita perlu memohon ampun dan perlindungan kepada
Allah. Kita juga harus berdoa agar Allah selalu memberikan ridho kepada kita.
Hati yang bersih tidak akan ada kesombongan di dalamnya. Oleh karena itu, di
dalam berdoa memohon ampunan, perlindungan, dan ridho dari Allah, kita tidak
boleh sombong. Dihadapan Allah kita harus menyadari bahwa kita tidak berdaya
tanpa adanya pertolongan dari Allah.
REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 17 : Para Bagawat Berlomba Menjunjung Langit
Dari artikel di atas
kita dapat mengetahui bahwa begawat adalah semua orang yang merasa mengemban
dan mengembangkan ilmu serta mengimplementasikannya. Begawat memiliki tanggung
jawab dalam mengemban ilmu sehingga Begawat harus mampu menjaga amanah yang
diberikan kepadanya. Begawat juga merupakan seorang yang menjadi panutan bagi
kebanyakan orang. Oleh karena itu, Begawat harus mampu memberikan panutan dan contoh
yang baik bagi orang lain.
Jumat, 03 Mei 2013
REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 19: Tak Mampu Memikirkan Kapan Datangnya Kiamat
~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 45: Bagaimana Matematikawan Mengusir Setan?
Orang yang berilmu
akan lebih sulit digoda oleh syaitan. “Hai
orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam
majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.
Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan.” (QS Al Mujaadilah: 11).
Ada pepatah yang
mengatakan bahwa “belajarlah dari ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.” Dari
pepatah tersebut kita bisa belajar bahwa semestinya semakin banyak ilmu yang
kita miliki, maka semakin sedikit kesombongan yang ada pada diri kita. Apabila
tidak ada kesombongan dalam diri kita, maka kita akan ikhlas dalam menuntut
ilmu maupun dalam berdoa kepada Allah. Kita dapat berdoa kepada Allah agar
dijauhkan dari godaan syaitan. Apabila dalam berdoa kita khusyuk, maka insyaAllah
Allah akan mengabulkan doa kita.
~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 44: Kyai Mursidin 2
Artikel di atas
menceritakan salah satu perbuatan menyekutukan Allah. Dalam artikel tersebut
disebutkan bahwa Ankala telah melakukan kegiatan menyekutukan Allah. Ankala
mendapatkan godaan syaitan karena dia tidak ikhlas dalam berdoa kepada Allah.
Allah telah berfirman dalam QS Al Kahfi: 44 yang artinya: “Di
sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi
pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.” Jadi jelaslah bahwa hanya Allah lah
yang mampu memberikan pertolongan kepada manusia. Dan pertolongan Allah adalah
benar.
Kamis, 02 Mei 2013
~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 43: Kyai Mursidin 1
Seorang yang ikhlas
dalam berdoa hanya akan memohon dan meminta kepada Allah semata. Mereka tidak
akan terpengaruh oleh bisikan-bisikan syaitan dan mereka juga tidak akan
menyekutukan Allah. Allah telah berfirman dalam QS Al An’aam: 71, yang artinya
[Katakanlah: ‘Apakah kita akan menyeru
selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada
kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita
akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti
orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam
keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang
lurus (dengan mengatakan): ‘Marilah ikuti kami.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya
petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar
menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam’]. Dari potongan ayat tersebut
menunjukkan bahwa perbuatan syirik atau pun menyekutukan Allah tidak akan
memberikan manfaat kepada kita. Allah juga telah berfirman dalam QS Al-Mu’min:
40 yang artinya, “Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah)
melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala
puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” Melalui ayat tersebut kita diperintahkan
untuk menyembah hanya kepada Allah karena hanya Allah-lah yang berhak disembah
dan hanya Allah-lah yang dapat hidup kekal. Jadi janganlah sekali-kali kita
berniat atau pun melakukan perbuatan menyekutukan Allah tidak ada yang kekal,
kecuali Allah.
~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 42: Mengubah Mitos menjadi Logos
Sombong berarti
mitos. Untuk menghilangkan mitos dalam diri dan mengubahnya menjadi logos, maka
kita perlu bertawakal kepada Allah. Apabila kita telah berhasil mengubah mitos
menjadi logos, namun kita masik menyebutkan kata logosku maka sebenar-benarnya
masih ada kesombongan dalam diri kita. Sombong adalah perbuatan syaitan dan
merupakan perbuatan dosa yang terberat. Kesombongan hanya akan hilang melalui
pertolongan dari Allah. Dan keakuanku hanya akan hilang dengan rahmat dan
hidayah Allah. Oleh karena itu, kita perlu memantapkan hati kita sebagai
komandan kita agar Allah senantiasa memberikan rahmat dan hidayahNya kepada
kita. Amiinn.
~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 41: Balas Dendam Syaitan Terhadap Matematikawan
Syaitan dapat menyusup ke pikiran seseorang dikarenakan ada
kesombongan di dalam diri mereka. Syaitan memengaruhi pikiran manusia bahwasanya
segala apa yang ada di dunia maupun di akhirat bisa mereka pikirkan. Padahal
mereka telah mengetahui bahwa pikiran mereka itu terbatas. Kesombongan manusia
dapat menyebabkan mereka lupa diri bahkan lupa kepada Tuhannya. Oleh karena
itu, agar manusia terhindar dari sifat atau pun perilaku sombong, maka
hendaknya mereka selalu berdoa kepada Allah dan memohon agar dihindarkan dari
perilaku sombong.
~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 40: Berguru Kepada Imam Al-Ghazali untuk Meningkatkan Kualitas Spiritual (Islam)
Jika seseorang ingin shalat dengan
kusyuk, maka ia harus berzikir terlebih dahulu. Dengan
berzikir hati menjadi tenteram. Allah telah berfirman dalam QS. Ar- Ra’d: 28
yang artinya: "(yaitu) orang-orang
yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah,
hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." Di antara
zikir yang utama adalah Laa ilaaha illallahu (Tidak ada Tuhan selain Allah). "Aku pernah mendengar Rasulullah Saw.
bersabda: 'Zikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallahu" (HR Turmudzi).
Apabila kita sudah berzikir namun
kita masih belum bisa khusyuk dalam shalat, maka kita masih perlu untuk
membersihkan hati kita. Kita harus mampu memerangi penyakit-penyakit hati yang
ada dalam diri kita. Oleh karena itu, kita harus senantiasa berzikir, mengingat
Allah, dan memohon perlindungan kepada Allah agar senantiasa dilindungi dan
dijauhkan dari godaan syaitan.
~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 39: Menggapai Sepi
Sepi tidak dapat kita
raih jka kita masih mengaku-aku diri kita. Jika kita mulai bersuaru dan ketika suara itu diucapkan
dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, terdengar suara yang ramai membahana
luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubu tetapi
suara itu jugaterdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Maka terasa
ditemukan dunia dan di luar dunia penuh dengan suara itu. Di dalam kesepian
telah ditemukan ramai luar biasa. Sebenarnya sepi adalah doa-doaku tanpa
keakuanku dan juga doa-doamu tanpa keakuanmu. Dalam berdoa yang ada hanya
keikhlasan hati, bukan keakuanku atau pun keakuanmu.
~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 38 : Menggapai Pikiran Ikhlas
Dari artikel di atas disebutkan bahwa ikhlas dalam pikiran seseorang adalah kesediaan
dan kesiapan seseorang membuat anti-tesis dari pengetahuannya dan juga
kesediaan dan kesiapan seseorang membuat sintesis antara tesis dan anti-tesis.
Ilmu itu dimulai dengan bertanya. Apa yang belum kita ketahui sebelumnya
kemudian kita tanyakan kepada orang lain yang sekiranya dapat memberikan
jawaban kepada kita, maka sesuatu yang kita tanyakan tersebut akan menjadi
ilmu/pengetahuan baru bagi kita. Semakin banyak kita bertanya maka akan semakin
banyak pula ilmu yang akan kita peroleh.
~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 37: Ketika Pikiranku Tak Berdaya
Pikiran manusia itu terbatas. Tidak semua hal dapat
dipikirkan oleh manusia. segala kekuasaan adalah miliki Allah semata. Lahir,
mati, dan jodoh, semua itu ditangan Allah. Yang perlu kita lakukan adalah
senantiasa berdoa dan berikhtiar, memasrahkan semuanya kepada Allah. Sekecil
apapun persoalan kita, sebaiknya kita menyerahkannya kepada Allah. Disamping
itu kita juga harus senantiasa sabar dan selalu berdoa dengan khusyuk kepada
Allah. Allah selalu mendengarkan doa-doa hambanya dan akan mengabulkan
permohonan hambanya yang khusyuk dalam berdoa.
REFLEKSI Elegi Ritual Ikhlas 36: Menggapai Tidak Risau
Segala apa yang kita peroleh hingga saat ini merupakan
rizki dari Allah. Kita wajib mensyukuri semua yang telah Allah berikan, apapun
itu. Allah berfirman dalam QS Asy-Syura: 23, yang artinya: “Itulah
(karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman
dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: ‘Aku tidak meminta kepadamu
sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.’ Dan
siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada
kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” Allah
tidak menyukai hamba-hambaNya yang kufur nikmat. Jika kita selalu mensyukuri
apa yang telah Allah berikan kepada kita, maka kita tidak akan merasa risau
karena kita telah memasrahkan kepada Allah semua hasil yang akan kita dapatkan
atas ikhtiar kita. Sesungguhnya semua yang telah Allah berikan kepada kita
adalah yang terbaik bagi kita.
~REFLEKSI~ Elegi Ritual Ikhlas 35: Cendekia yang ber Nurani
Dalam melakukan usaha agar kita dapat menjunjung
langit maka kita harus bernurani dan cendekia. Bernurani adalah ikhlas dalam
hati dan cendekia adalah kritis dalam pikiran.
Pemenang dari perlombaan menjunjung langit adalah mereka yang berhati
ikhlas dan berpikir kritis. Sebenarnya ikhlas dan berpikir kritis itu absolut
milik Allah. Kita sebagai manusia hanya dapat berusaha untuk mampu menggapai
ikhlas dan berpikir kritis tersebut. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun
yang mampu menjunjung langit, kecuali atas izin dasn ridho Allah.
Langganan:
Komentar (Atom)