Sabtu, 30 Maret 2013
Jumat, 29 Maret 2013
REFLEKSI: Mathematics and Language 8
http://powermathematics.blogspot.com/2013/03/mathematics-and-language-8.html
Dalam matematika ada dua macam komunikasi, yaitu matematika vertikal dan matematika horizontal. Matematika horizontal digunakan dalam matematika sekolah sedangkan matematika vertikal digunakan dalam matematika murni. Dalam kegiatan pembelajaran matematika, guru harus mampu menggunakan komunikasi sesuai. Apabila siswanya merupakan siswa SD, maka sebaiknya guru menggunakan jenis komunikasi horizontal. Hal ini dilakukan agar siswa dapat lebih mudah dalam memahami apa yang sedang mereka pelajari. Seperti yang telah kita ketahui bahwasanya dalam kegiatan pembelajaran sudah pasti diperlukan bahasa untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan efektif maka guru harus mampu menggunakan bahasa yang sesuai, yang mudah diserap dan dipahami oleh siswa.
REFLEKSI: Mathematics and Language 5
Matematika murni dengan pendidikan matematika itu berbeda. Dalam artikel
sebelumnya yang dimuat dalam blog Bapak ini, terdapat postingan tentang
“School Mathematic”. Dalam artikel tersebut terdapat tujuan pendidikan
yang disampaikan oleh Niss, 1983 (dalam Ernest, 1991). Menurut Niss,
tujuan pendidikan matematika adalah memungkinkan siswa untuk menyadari,
memahami, menilai, memanfaatkan dan kadang-kadang juga melakukan
penerapan matematika dalam masyarakat, khususnya untuk situasi yang
penting bagi kehidupan mereka pribadi, sosial dan profesional. Dari
uraian tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pendidikan
matematika itu merupakan modifikasi dari matematika murni. Matematika
murni yang sebelumnya tidak bisa diaplikasikan ke dalam kehidupan
sehari-hari kemudian dimodifikasi menjadi pendidikan matematika yang
dapat diterapkan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena
itu, matematika murni dan pendidikan matematika jelas berbeda.
REFLEKSI: Mathematics and Language 6
Dalam kegiatan pembelajaran, guru tidak boleh memaksakan kehendaknya
kepada siswa dengan mengharuskan siswanya untuk menyukai matematika.
Guru juga harus mampu untuk bersikap demokratis terhadap siswanya.
Dalam
kegiatan pembelajaran, model pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan
tersebut sangatlah penting untuk diperhatikan. Apa pun model yang
digunakan, yang terpenting adalah guru harus mampu bersikap bijak dan
demokratis dengan memberikan kesempatan kepada siswanya untuk membangun
sendiri pengetahuan-pengetahuan dan pengertian-pengertian mereka
terhadap konsep-konsep metematika. Oleh karena itu, agar siswa dapat
memahami dan membangun sendiri pengertiannya terhadap konsep matematika
tersebut, maka dalam kegiatan pembelajaran harus ada bahasa yang
digunakan untuk berkomunikasi.
Dalam setiap pembelajaran sudah pasti
menggunakan bahasa. Oleh karena itu, dalam belajar matematika
khususnya, bahasa memiliki keterkaitan yang erat dengan matematika itu
sendiri karena bahasa digunakan sebagai alat komunikasi dan interaksi.
Kamis, 21 Maret 2013
(Refleksi) Mathematics and Language 10
Saya sependapat dengan pernyataan bahwa TI adalah alat yang berguna untuk membantu siswa dalam belajar. Penggunaan teknologi informasi yang mendominasi dalam kegiatan pembelajaran menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran sudah terarah pada pembelajaran yang inovatif. Guru dalam proses kegiatan pembelajaran bertindak sebagai orang dewasa tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada siswa yang notabe-nya adalah kaum muda. Dalam kegiatan pembelajaran, guru tidak boleh bersikap otoriter kepada siswanya.
Dalam pembelajaran inovatif, siswa diharapkan mampu membangun pengertian-pengertian tentang konsep-konsep matematika oleh diri mereka sendiri. TI sebagai salah satu sumber dan alat belajar dapat membantu siswa dalam belajar, dalam mengonstruksi pengetahuan-pengetahuan baru, dan juga dalam mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa. Oleh karena itu, sangatlah baik jika guru-guru di Indonesia dapat menggunakan dan memanfaatkan TI dalam kegiatan pembelajarannya agar kegiatan pembelajaran lebih inovatif.
(Refleksi) Mathematics and Language
Matematika dan bahasa memang berkaitan. Dalam belajar matematika kita menggunakan bahasa. Bahasa memudahkan kita untuk berkomunikasi, baik antara guru dengan siswa atau pun antarsiswa. Tanpa adanya bahasa, matematika akan sulit untuk dipahami. Selain itu, tanpa adanya bahasa, kegiatan pembelajaran juga tidak akan berjalan lancar. Sebagai contoh saat guru menjelaskan tentang suatu materi matematika, maka guru pasti menggunakan bahasa sebagai alat bantu dalam berkomunikasi. Bahasa yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran matematika tidak hanya bahasa lisan atau bahasa tulisan saja namun bisa juga bahasa tubuh. Bagi anak berkebutuhan khusus, dalam belajar matematika sering kali menggunakan bahasa tubuh. Oleh karena itu, jelaslah bahwa bahasa memiliki andil dan keterkaitan dengan matematika.
Rabu, 20 Maret 2013
(REFLEKSI) Mathematics and Language 2
http://powermathematics.blogspot.com/2013/03/mathematics-and-language-2.html
Guru memang tidak boleh egois dengan memaksakan kehendaknya untuk menyukai matematika kepada siswanya. Guru tidak boleh berambisi untuk menjadikan siswa suka matematika. Idealnya agar matematika itu menjadi suatu hiburan yang menyenangkan maka harus ada kesiapan dalam belajar matematika dari diri siswa. Ada 2 kemungkinan dalam belajar matematika yaitu: akan menjadi hiburan dan akan menjadi bencana. Akan menjadi hiburan kalau terdapat kesiapan dalam belajar matematika dan akan menjadi bencana bila tidaka ada kesiapan. Kalau siswa dipaksa untuk menyukai matematika berarti kesiapan siswa dalam belajar matematika pun karena terpaksa. Jika sudah seperti itu siswa malah akan merasa tertekan dalam belajar matematika. Hal ini lah yang disebut bencana dalam belajar matematika. Oleh karena itu, guru yang baik harus mampu melayani dan menfasilitasi siswa dengan baik pula agar nantinya belajar matematika dapat menjadi hiburan bagi siswa.
REFLEKSI PERKULIAHAN TANGGAL 14 MARET 2013
RAIH PUNCAK GUNUNG MATEMATIKA TERTINGGI
Apabila kita menilik sistem pembelajaran di negara-negara maju, maka kebanyakan telah menerapkan metode inovatif dalam kegiatan pembelajarannya. Sebagai contoh negara Jepang dan Australia. Di Jepang guru telah menerapkan metode inovatif yang berorientasi pada siswa. Guru menerapkan Lesson Study dalam kegiatan pembelajaran. Tujuan diadakan Lesson Study tersebut adalah untuk memperbaiki pembelajaran dari dan oleh guru. Dengan adanya kegiatan tersebut maka guru dapat memperbaiki metode, sumber, alat belajar, dll. Dalam melakukan Lesson Study ini guru bekerja sama dengan dosen atau pakar pendidikan. Di Australia, kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada partisipasi dan keaktifan siswa. Kegiatan pembelajaran tidak hanya statis di dalam kelas saja namun juga diinovasikan belajar di luar kelas (outdoor). Metode yang digunakan bukan lagi teacher centered namun sudah student centere. Dari sini terlihat bahwa di kedua negara tersebut metode pembelajaran inovatif telah dibudayakan.
Jika kita memerhatikan pendidikan di Indonesia, saat ini masih banyak siswa yang menyatakan bahwa matematika itu sulit. Anggapan tersebut memang tidak sepenuhnya dapat disalahkan. Guru tidak dapat bersikap egois dengan memaksakan kehendaknya pada siswa untuk menyukai matematika. Sebaliknya guru harus dapat menstimulasi siswa untuk mau belajar matematika atas kemauan mereka sendiri. Dengan begitu siswa akan sadar dengan sendirinya bahwa belajar matematika adalah kebutuhan mereka.
Pada dasarnya ada dua pilihan dalam belajar matematika. Yang pertama apabila kita siap untuk belajar matematika maka matematika itu menjadi menyenangkan. Yang kedua apabila kita tidak siap dalam belajar matematika maka hal tersebut malah dapat menimbulkan bencana bagi diri kita sendiri. Oleh karena itu, dalam matematika dikenal matematika realistik. Apabila kita dapat menerapkan matematika relistik dalam kegiatan pembelajaran maka kegiatan pembelajarannya pun dapat berjalan efektif dan efisien. Dalam proses pembelajaran matematika realistik terdapat 4 tahap, yaitu matematika formal, model formal, model konkret, dan matematika konkret. Puncak dari matematika realistik adalah matematika formal dan yang paling dasar adalah matematika konkret. Untuk tingkat sekolah dasar yang digunakan adalah matematika konkret atau bisa juga model konkret.
Bila kegiatan belajar matematika kita analogikan sebagai kegiatan mendaki gunung, maka untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran, kita juga harus mampu mendaki gunung matematika untuk dapat mencapai puncaknya. Cara yang dapat dilakukan agar kita mampu mencapai puncak gunung tersebut adalah dengan melalui terlebih dahulu tahapan-tahapan proses pembelajaran mulai dari yang paling dasar hingga yang paling tinggi. Itu semua dapat tercapai apabila kita mau berusaha dengan ekstra. Untuk dapat mendaki gunung matematika maka dalam kegiatan pembelajaran harus diterapkan metode pembelajaran yang inovatif. Pembelajaran inovatif merupakan pembelajaran yang mampu melatih siswa untuk dapat berinteraksi secara aktif dan juga pembelajaran yang mampu membimbing siswa untuk selalu berkembang ke arah yang lebih baik. Namun seperti yang telah kita ketahui bahwa metode pembelajaran tradisional telah membudaya di negara kita. Maka akan sedikit sulit untuk mengubah metode pembelajaran dari metode tradisional ke metode inovatif. Oleh karena itu sebisa mungkin mulai dari sekarang kita harus mampu untuk membudayakan metode inovatif tersebut. Apalagi jika kurikulum 2013 jadi diterapakan maka guru dituntut harus kreatif dan inovatif. Guru yang tidak kreatif, tidak inovatif, dan tidak mampu mengembangkan LKS-nya sendiri maka tidak akan mampu untuk menerapkan kurikulum 2013 dalam kegiatan pembelajaran di kelasnya.
Agar matematika menjadi ilmu maka matematika harus bersifat sintetik apriori. A priori dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam memikirkan apa yang belum terjadi. Pikiran/ logika memiliki sifat a priori. Selain itu ada pula a posteriori. A posteriori artinya tidak dapat memikirkan apa yang belum terjadi. Yang memiliki sifat a posteriori adalah pengalaman. Oleh karena itu, matematika dapat dikatakan sebagai ilmu apabila ada proses berpikir dan mencari pengalaman.
Langganan:
Komentar (Atom)