Rabu, 20 Maret 2013

REFLEKSI PERKULIAHAN TANGGAL 14 MARET 2013



RAIH PUNCAK GUNUNG MATEMATIKA TERTINGGI

 

Apabila kita menilik sistem pembelajaran di negara-negara maju, maka kebanyakan telah menerapkan metode inovatif dalam kegiatan pembelajarannya. Sebagai contoh negara Jepang dan Australia. Di Jepang guru telah menerapkan metode inovatif yang berorientasi pada siswa. Guru menerapkan Lesson Study dalam kegiatan pembelajaran. Tujuan diadakan Lesson Study tersebut adalah untuk memperbaiki pembelajaran dari dan oleh guru. Dengan adanya kegiatan tersebut maka guru dapat memperbaiki metode, sumber, alat belajar, dll. Dalam melakukan Lesson Study ini guru bekerja sama dengan dosen atau pakar pendidikan. Di Australia, kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada partisipasi dan keaktifan siswa. Kegiatan pembelajaran tidak hanya statis di dalam kelas saja namun juga diinovasikan belajar di luar kelas (outdoor). Metode yang digunakan bukan lagi teacher centered namun sudah student centere. Dari sini terlihat bahwa di kedua negara tersebut metode pembelajaran inovatif telah dibudayakan.

Jika kita memerhatikan pendidikan di Indonesia, saat ini masih banyak siswa yang menyatakan bahwa matematika itu sulit. Anggapan tersebut memang tidak sepenuhnya dapat disalahkan. Guru tidak dapat bersikap egois dengan memaksakan kehendaknya pada siswa untuk menyukai matematika. Sebaliknya guru harus dapat menstimulasi siswa untuk mau belajar matematika atas kemauan mereka sendiri. Dengan begitu siswa akan sadar dengan sendirinya bahwa belajar matematika adalah kebutuhan mereka.

Pada dasarnya ada dua pilihan dalam belajar matematika. Yang pertama apabila kita siap untuk belajar matematika maka matematika itu menjadi menyenangkan. Yang kedua apabila kita tidak siap dalam belajar matematika maka hal tersebut malah dapat menimbulkan bencana bagi diri kita sendiri. Oleh karena itu, dalam matematika dikenal matematika realistik. Apabila kita dapat menerapkan matematika relistik dalam kegiatan pembelajaran maka kegiatan pembelajarannya pun dapat berjalan efektif dan efisien. Dalam proses pembelajaran matematika realistik terdapat 4 tahap, yaitu matematika formal, model formal, model konkret, dan matematika konkret. Puncak dari matematika realistik adalah matematika formal dan yang paling dasar adalah matematika konkret. Untuk tingkat sekolah dasar yang digunakan adalah matematika konkret atau bisa juga model konkret.

Bila kegiatan belajar matematika kita analogikan sebagai kegiatan mendaki gunung, maka untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran, kita juga harus mampu mendaki gunung matematika untuk dapat mencapai puncaknya. Cara yang dapat dilakukan agar kita mampu mencapai puncak gunung tersebut adalah dengan melalui terlebih dahulu tahapan-tahapan proses pembelajaran mulai dari yang paling dasar hingga yang paling tinggi. Itu semua dapat tercapai apabila kita mau berusaha dengan ekstra. Untuk dapat mendaki gunung matematika maka dalam kegiatan pembelajaran harus diterapkan metode pembelajaran yang inovatif. Pembelajaran inovatif merupakan pembelajaran yang mampu melatih siswa untuk dapat berinteraksi secara aktif dan juga pembelajaran yang mampu membimbing siswa untuk selalu berkembang ke arah yang lebih baik. Namun seperti yang telah kita ketahui bahwa metode pembelajaran tradisional telah membudaya di negara kita. Maka akan sedikit sulit untuk mengubah metode pembelajaran dari metode tradisional ke metode inovatif. Oleh karena itu sebisa mungkin mulai dari sekarang kita harus mampu untuk membudayakan metode inovatif tersebut. Apalagi jika kurikulum 2013 jadi diterapakan maka guru dituntut harus kreatif dan inovatif. Guru yang tidak kreatif, tidak inovatif, dan tidak mampu mengembangkan LKS-nya sendiri maka tidak akan mampu untuk menerapkan kurikulum 2013 dalam kegiatan pembelajaran di kelasnya.

Agar matematika menjadi ilmu maka matematika harus bersifat sintetik apriori. A priori dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam memikirkan apa yang belum terjadi. Pikiran/ logika memiliki sifat a priori. Selain itu ada pula a posteriori. A posteriori artinya tidak dapat memikirkan apa yang belum terjadi. Yang memiliki sifat a posteriori adalah pengalaman. Oleh karena itu, matematika dapat dikatakan sebagai ilmu apabila ada proses berpikir dan mencari pengalaman.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar