MATEMATIKA INOVATIF
(Refleksi Perkuliahan Matematika Tanggal 28 Februari
2013 bersama Dr. Marsigit, M.A.)
Intuisi merupakan pemahaman yang
tidak dapat didefinisikan, baik kapan dan dimana terjadinya. Dalam kegiatan
pembelajaran, intuisi memiliki peran yang sangat penting. Intuisi yang dalam
istilah awam sering disebut ilham ini mampu mendorong seseorang untuk
menghasilkan ide/ gagasan. Intuisi dari tingkat yang terendah ke tingkat yang
tertinggi adalah sebagai berikut:
1.
Tindakan
2.
Kata-kata/ tulisan
3.
Pikiran
4.
Hati
Intuisi tindakan tidak mampu mengalahkan intuisi
kata-kata/ tulisan, intuisi kata-kata/ tulisan tidak mampu mengalahkan intuisi
pikiran, dan intuisi pikiran tidak dapat mengalahkan intuisi hati.
Karena intuisi sangat penting
bagi siswa maka intuisi ini perlu dikembangkan dan diberdayakan. Jangan sampai
siswa kehilangan intuisinya. Menurut Thompson, intuisi matematika dapat muncul
setelah tahap pengalaman/ experience.
Oleh karena itu, agar siswa tidak kehilangan intuisinya, maka dalam kegiatan
pembelajaran seorang guru dapat menerapkan suatu metode yang kreatif dan
inovatif. Dengan begitu, siswa akan lebih mandiri dan siswa akan terbiasa untuk
menghasilkan ide/ gagasannya sendiri.
Terdapat dua macam skema variasi
metode yang dapat dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran. Kedua metode
tersebut adalah metode induksi dan metode deduksi. Metode induksi dikembangkan
menurut pola khusus-umum sedangkan metode deduksi dikembangkan menurut pola umum-khusus.
Sebagai contoh apabila kita membicarakan tentang macam-macam segitiga maka akan
ada yang namanya segitiga siku-siku. Kemudian dari segitiga siku-siku akan dikembangan
menjadi dua macam, yaitu segitiga siku-siku sama kaki dan segitiga siku-siku sembarang.
Dalam kasus ini, metode yang digunakan adalah metode deduksi karena hal yang
pertama kali dibicarakan adalah hal yang umum. Berbeda halnya apabila kita membicarakan
segitiga siku-siku sembarang terlebih dahulu kemudian baru membicarakan
segitiga secara umum. Maka metode yang digunakan dalam kasus ini adalah metode
induksi. Metode deduksi dapat digunakan untuk memahami suatu persoalan
sedangkan metode induksi dapat digunakan untuk menyimpulkan. Dalam metode deduksi
terdapat definisi, aksioma, dan teorema. Metode deduksi dan metode induksi
tidak bisa diterapkan secara terpisah. Guru tidak bisa hanya menerapkan metode
deduksi saja atau metode induksi saja. Jadi, antara keduanya harus bekerja
secara sinergis.
Jika kita bebrbicara tentang
matematika realistik maka akan terdapat 4 tingkatan matematika realistik. Jika
dibuat model piramida maka matematika konkret merupakan tingkatan yang paling
dasar. Di atasnya terdapat model konkret. Di atas model konkret terdapat model
formal. Dan yang paling puncak adalah matematika formal.
Pembelajaran matematika formal kurang
efektif jika diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Karena pembelajaran
matematika formal membuat matematika menjadi abstrak, umum, objektif, dan
teoritis. Oleh karenanya, dalam pembelajaran matematika sebaiknya guru menerapkan
pembelajaran matematika material.
Dalam pembelajaran (tidak hanya
pembelajaran matematika saja) pastilah ada komunikasi, baik antarsiswa atau pun
antara guru dan siswa. Dalam matematika terdapat 4 macam komunikasi metematika,
yaitu komunikasi formal matematika, komunikasi
material matematika, komunikasi spiritual matematika, dan komunikasi normatif
matematika.
Matematika dapat dikatakan
sebagai ilmu jika ia memiliki sifat sintetik a priori. A priori artinya bisa
memikirkan apa yang belum terjadi. Pikiran/ logika bersifat a priori, sehingga
dengan kita menggunakan logika kita, kita akan dapat memikirkan apa yang belum
terjadi. Selain itu ada pula pengalaman, pengalaman memiliki sifat a posteriori
yang artinya tidak dapat memikirkan apa yang belum terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar