Kamis, 28 Februari 2013

REFLEKSI Forum Tanya Jawab 63: Bagaimana Siswa Bisa Menentukan K urikulum?


Setelah membaca artikel tersebut saya menjadi sadar akan arti penting LKS dan Portofolio dalam kegiatan pembelajaran. Di London, guru membuat dan mengembangkan sendiri LKS-nya. Hal tersebut menunjukkan bahwa guru di London sangat baik dalam melayani siswanya. Telah disebutkan dalam artikel di atas bahwa siswa di London turut serta membuat kurikulum di sekolah. Sebelum kurikulum dikembangkan maka diadakan suatu pertemuan khusus sehingga setelah pertemuan tersebut dapat diketahui apa saja yang siswa butuhkan yang kemudian dapat digunakan untuk mengembangkan kurikulum tingkat sekolah.

Jika saja di Indonesia diterapkan sistem pengembangan kurikulum yang sama dengan di London, maka kegiatan pembelajaran di negara kita ini akan lebih mampu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan siswa. Siswa akan lebih terlayani karena kegiatan pembelajarannya sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Oleh karena itu, artikel di atas dapat dijadikan pertimbangan agar sistem pengembangan kurikulum di Indonesia bisa lebih memenuhi kebutuhan siswa.

Rabu, 27 Februari 2013

{REFLEKSI} Some Problems in the Effort of Promoting Innovations of Teaching Learning of Mathematics and Sciences in Indonesia


Masalah utama yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran matematika dan IPA di Indonesia adalah usaha untuk mengubah metode pembelajaran dari yang berorientasi pada guru menjadi metode pembelajaran yang berorieantasi pada siswa. Guru masih menggunakan metode ekspositori sehingga menyebabkan siswa menjadi pasif dan yang lebih mendominasi kegiatan pembelajaran adalah guru. Sekarang ini masih banyak guru yang memberikan LKS kepada siswanya namun di dalamnya hanya terdapat kumpulan soal saja. Hal tersebut tentu tidak efektif karena siswa tidak dapat memperoleh informasi-informasi dari LKS tersebut.

Guru mungkin mengira bahwa ia telah menerapkan metode inovatif dalam kegiatan pembelajarannya karena guru telah memberikan kesempatan kepada siswa-siswanya untuk berdiskusi. Namun tidak selamanya kegiatan diskusi tersebut merupakan perwujudan sikap demokrasi yang ditunjukkan oleh guru pada siswanya. Seringkali secara tidak sadar guru malah terlalu banyak memberikan petunjuk atau pun ceramah kepada siswanya. Hal tersebut dapat menjadikan siswa kehilangan konsentrasinya dalam berdiskusi dan bahkan siswa akan merasa bahwa guru tersebut kurang menghargainya.

Dalam artikel di atas juga telah disebutkan beberapa hal yang menjadi masalah dalam kegiatan pembelajaran matematika dan IPA di Indonesia. Oleh karena itu, artikel “Some Problems in the Effort of Promoting Innovations of Teaching Learning of Mathematics and Sciences in Indonesia” sangat bermanfaat bagi guru, khususnya guru matematika dan IPA karena dengan adanya artikel tersebut guru dapat mengetahui hal-hal apa saja yang menjadi masalah dalam kegiatan pembelajaran matematika dan IPA di Indonesia. Dengan begitu guru dapat mengatasi dan memecahkan masalah-masalah tersebut agar ke depannya kegiatan pembelajaran matematika dan IPA di Indonesia lebih efektif, inovatif, dan fleksibel.

[Refleksi] Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 9: School Mathematics


Setelah membaca artikel di atas, menurut pendapat saya, hakekat matematika sekolah dapat digunakan untuk mengubah metode pembelajaran matematika dari yang tradisional ke yang inovatif. Dengan diterapkannya metode inovatif maka siswa menjadi lebih aktif dan kreatif. Telah disebutkan dalam artikel di atas bahwa hakekat matematika sekolah itu meliputi kegiatan penulusuran pola/ hubungan, kegiatan problem solving, kegiatan investigasi, dan kegiatan komunikasi. Hakekat tersebut dapat membuat matematika menjadi lebih menyenangkan bagi siswa karena siswa dapat melakukan berbagai aktivitas matematika secara lebih mandiri. Melalui kegiatan penulusuran pola/ hubungan, siswa diberi kesempatan oleh guru untuk menemukan dan mendeskripsikan hubungan antara dua atau lebih konsep matematika. Kemudian apabila terdapat persoalan-persoalan matematika, mereka dapat mencari solusi atau pemecahan masalahnya sendiri. Namun di sini guru juga dapat membantu siswa dengan mengidentifikasi informasi-informasi apa saja yang dapat siswa gunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Setelah melakukan kegiatan pemecahan masalah, siswa diberi kesempatan untuk melakukan investigasi. Kegiatan investigasi ini dapat mendorong siswa untuk senantiasa mencari sesuatu yang baru. Keingintahuan siswa akan bertambah seiring dengan seringnya siswa melakukan investigasi. Dalam pembelajaran matematika sudah pasti ada komunikasi. Baik itu komunikasi antara guru dan siswa atau antarsiswa. Dalam menyampaikan pendapat secara langsung dalam kelas, siswa pasti menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya. Begitu pula dengan guru, guru menggunakan bahasa untuk menjelaskan, menanggapi atau pun memberi koreksi terhadap pendapat yang disampaikan siswa tersebut. Oleh karena itu, hakekat matematika sekolah dapat dijadikan alternatif agar kegiatan pembelajaran matematika menjadi lebih menyenangkan.

REFLEKSI: To Develop Lesson Plan for Secondary Mathematics Teaching (Mengembangkan RPP Untuk PBM Matematika di SMP)

 

 http://powermathematics.blogspot.com/2008/11/to-develop-lesson-plan-for-secondary.html

Sebelum mengadakan kegiatan mengajar, hendaknya guru membuat rencana persiapan pembelajaran yang biasa disebut RPP. Dalam RPP harus ada Standard Isi, Standard Kompetensi, Kompetensi Dasar, Tujuan Pembelajaran, Pemetaan, Indikator, Strategi Belajar Mengajar (Tatap Muka) dan Penilaian. Dalam membuat RPP ini, guru juga harus merencanakan urut-urutan kegiatan mengajar, mulai dari pembukaan, isi, kemudian penutup. Karakteristik anak yang ingin dicapai pun harus disertakan dalam RPP.

RPP ini sangat membantu guru dalam kegiatan mengajar, karena dengan adanya RPP ini, guru akan mempunyai gambaran tentang apa yang akan ia lakukan atau sampaikan di pertemuan yang akan datang. Metode pembelajaran, sumber belajar, alat dan media pembelajaran, semua itu tercover dalam RPP dengan harapan guru dapat merencanakan metode yang inovatif yang sesuai dengan karakteristik banyak siswa. Guru juga diharapkan mampu membuat dan mengembangkan LKS-nya sendiri sebagai media belajar bagi para muridnya. Selain itu, dalam era globalisasi ini, guru dapat memanfaatkan ICT sebagai sumber belajar siswa agar sumber belajarnya beragam tidak hanya dari buku saja. Oleh karena itu, sebelum melakukan kegiatan mengajar guru harus membuat RPP terlebih dahulu agar dalam praktiknya guru dapat menerapkan metode pembelajaran yang inovatif.

Senin, 25 Februari 2013

(Refleksi) Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 10: Architectonic Mathematics (2)


Untuk membangun architectonic mathematics maka asumsi dasar yang harus kita pegang adalah bahwa matematika merupakan pikiran kita sendiri. Maksudnya, dalam mempelajari matematika tersebut kita memahami dan membangun sendiri pengertian-pengertian atau konsep-konsep matematika melalui penalaran dan pengamatan fenomena matematika. Dengan penalaran yang sifatnya analitik apriori dan pengamatan fenomena matematika yang menghasilkan konsep matematika yang bersifat sintetik a posteriori, maka akan diperoleh pemahaman atau konstruksi matematika yang sifatnya sintetik apriori.
Matematika sebagai ilmu maka harus bersifat sintetik apriori karena matematika sebagai ilmu itu merupakan matematika yang dibangun dengan berlandaskan intuisi murni yang mana konsep-konsep matematikanya telah dikonstruksi sehingga memiliki sifat sintetik apriori. Begitu pula dengan architectonic mathematics, architectonic mathematics juga memiliki sifat sintetik apriori. Oleh karena itu, agar dalam kegiatan pembelajaran siswa dapat menjadi architectonic mathematics maka guru harus menerapkan metode pembelajaran yang mampu melayani kebutuhan semua siswanya yang mana antara siswa yang satu dengan yang lainnya memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Maka dari itu, dalam kegiatan pembelajaran guru tidak hanya melihat Architectonic Mathematics hanya dari subyek diri seorang siswa saja, tetapi guru harus dapat melihat dalam konteks Architectonic-architectonic Mathematics dari siswa-siswa yang lain.

Sabtu, 23 Februari 2013

(Refleksi) Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 6: Apakah Matematika itu Ilmu?


Berdasarkan artikel di atas, menurut Kant, matematika dapat menjadi ilmu jika dibangun di atas intuisi. Seperti yang telah kita ketahui, intuisi dapat muncul karena adanya pengalaman (experience). Oleh karena itu agar matematika dapat menjadi ilmu, maka dalam kegiatan pembelajarannya guru bertanggung jawab untuk membudayakan matematika. Namun tidak hanya guru saja yang memiliki tanggung jawab tersebut. Orang tua (masyarakat), sekolah, maupun pihak lainnya juga memiliki tanggung jawab untuk membudayakan matematika. Matematika sebagai ilmu selain dapat memberikan informasi/ pengetahuan, juga dapat memberikan pengalaman dan keterampilan pada siswa.

Refleksi Pembelajaran Matematika Pertemuan Pertama ( Kamis, 14 Februari 2013) bersama Bapak Marsigit


Negara kita sudah merdeka hampir selama 68 tahun. Tetapi hal tersebut tidak serta-merta  membuat kita terbebas dari belenggu negara penjajah. Kebiasaan dan budaya negara penjajah masih kental di negara kita ini. Hal dapat dilihat salah satunya dari bidang pendidikan. Saat ini masih banyak guru yang menggunakan metode pembelajaran tradisional dalam proses pembelajarannya. Di era globalisasi ini, metode tersebut kurang tepat jika masih diterapkan. Hal ini dikarenakan di dalam metode tersebut, sisiwa hanya dijadikan sebagai obyek saja. Siswa hanya mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh guru sehingga siswa menjadi bergantung kepada guru dan siswa juga menjadi enggan untuk mengembangkan pengetahuan yang telah diberikan guru kepadanya. Siswa menjadi malas untuk mencari pengetahuan-pengetahuan baru selain dari gurunya. Padahal di era modernisasi dan globalisasi ini, beragam ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Hal ini sudah tentu akan memberikan dampak positif, khususnya bagi dunia pendidikan. Sebagai contoh dengan adanya google, siswa dapat mencari informasi sebanyak-banyaknya tanpa harus bergantung pada gurunya. Namun perkembangan IPTEK tersebut belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh guru dalam proses pembelajaran di negara kita ini. Itulah mengapa diawal dikatakan bahwa negara kita masih terbayang-bayang oleh budaya dan kebiasaan negara penjajah, khususnya negara Belanda. Negara Belanda yang mana kepala pemerintahannya seorang raja, mewajibkan rakyat-rakyatnya untuk tunduk dan patuh pada rajanya tersebut. Begitu pula dengan metode pembelajaran tradisional. Dalam metode tersebut, siswa dapat dianalogikan sebagai rakyat dan guru dapat dianalogikan sebagai raja, yang mana siswa sangat patuh dan selalu mengiyakan apa yang disampaikan oleh guru kepadanya, seakan-akan apa yang disampaikan guru itu selalu benar. Oleh karena itu perlu adanya suatu perubahan metode pembelajaran dari yang tradisional ke yang inovatif. Metode pembelajaran inovatif mampu  menjadikan siswa lebih bersemangat. Metode ini juga lebih luwes jika dibandingkan dengan metode tradisioal. Dalam metode inovatif, siswa dapat memanfaatkan IPTEK semaksimal mungkin. Siswa dapat mengembangkan dan memperoleh pengetahuan secara lebih luas. Hal ini tentu dapat menumbuhkan rasa senang dan rasa ingin tahu yang lebih dan lebih sehingga informasi dan pengetahuan yang didapat siswa menjadi lebih luas. Namun untuk mengubah metode pembelajaran dari yang tradisional ke yang inovatif tidaklah mudah, mengingat metode pembelajaran tradisional tersebut sudah menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Oleh karena itu, diperlukan suatu perubahan yang mendasar baik dari aspek pengetahuan atau pun pengalaman agar metode pembelajaran yang semula tradisional dapat berubah menjadi metode pembelajaran inovatif.

Refleksi Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 3: Budaya Matematika Menghasilkan Mathematical Intuition


Saya sependapat dengan pernyataan bahwa intuisi sangat penting untuk menghasilkan ide/ gagasan matematika. Intuisi ini dapat muncul karena adanya pengalaman. Jika anak memiliki intuisi yang baik maka anak juga akan lebih mudah dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.  Dengan adanya experience  tersebut, maka siswa akan terbiasa untuk bekerja secara mandiri dan lebih mampu untuk menghasilkan pemikiran/ide/ gagasan mereka sendiri.  Oleh karena itu, guru sebagai pendidik memiliki tanggung  jawab untuk membudayakan matematika. Dengan membudayakan matematika maka siswa akan terbiasa dengan pelajaran matematika dan pengalaman siswa pun dapat bertambah. Selain itu, siswa juga tidak akan kehilangan intuisi matematikanya.

(Refleksi) Peran Intuisi Dalam Pembelajaran Matematika


Tidak dapat dipungkiri bahwa intuisi sangat berperan dalam pembelajaran matematika. Intuisi sangat penting untuk menghasilkan ide/ gagasan matematika. Jika siswa kehilangan intuisi dalam pembelajaran matematika maka siswa akan selalu bergantung pada gurunya karena siswa kesulitan untuk menghasilkan ide/ gagasan mereka sendiri. Oleh karena itu, apabila dalam kegiatan pembelajaran guru menerapkan metode pembelajaran inovatif maka sudah pasti intuisi memiliki peranan yang sangat penting karena dalam metode pembelajaran inovatif tersebut orientasinya kepada siswa bukan kepada guru. Siswa harus lebih aktif daripada gurunya.

Jumat, 22 Februari 2013

(Refleksi) Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 2: Intuisi dalam Matematika (2)


Saat ini, pembelajaran di sekolah-sekolah masih banyak yang menekankan pada aspek kognitifnya saja. Hal ini terjadi karena adanya anggapan kalau aspek afektif dan psikomotor dapat anak peroleh di lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Selain itu, juga adanya anggapan kalau nilai anak-anak bagus maka kualitas sekolah itu juga bagus. Hal itu secara tidak langsung membuat nama guru di sekolah tersebut menjadi terangkat. Karena adanya anggapan-anggapan tersebut maka guru berusaha keras untuk mencerdaskan anak didiknya. Dalam prosesnya guru terkadang tidak sadar kalau mereka hanya memberikan pendidikan kepada anak pada aspek kognitifnya saja.
Sekarang ini anak (siswa) sudah mulai sedikit kehilangan intuisinya. Seperti yang telah disebutkan dalam artikel diatas bahwa intuisi dapat muncul setelah adanya pengalaman. Sedangkan pengalaman tidak akan muncul jika tidak didukung oleh keterampilan dan pengetahuan. Oleh karena itu, ketiga aspek tersebut (kognitif, afektif, dan psikomotor) saling berkaitan dengan munculnya intuisi matematika. Jadi, jika saat ini guru lebih menekankan aspek kognitif dalam kegiatan pembelajarannya maka tidak heran jika siswa juga mulai kehilangan intuisinya. Oleh karena itu, selain memberikan pengetahuan, guru juga harus mampu memberikan pengalaman dan keterampilan kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran agar siswa tidak kehilangan intuisinya.

Refleksi Metodologi Pendidikan

http://powermathematics.blogspot.com/2008/11/metodologi-pendidikan.html


Identifikasi persoalan-persoalan pendidikan dalam artikel “Metodologi Pendidikan” tersebut sangat bermanfaat. Identifikasi tersebut dapat membantu guru dalam menemukan permasalahan-permasalahan yang sering menghambat kegiatan pembelajaran. Selain itu, dengan adanya identifikasi persoalan pendidikan itu, maka guru juga dapat mencari solusi agar masalah-masalah yang ada dapat segera teratasi.
Seperti yang telah kita ketahui bersama, sekarang ini masih banyak anak-anak yang merasa kesulitan dalam belajar matematika. Ada banyak faktor yang menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam belajar. Oleh karena itu, identifikasi persoalan-persoalan pendidikan sangat diperlukan agar guru dapat mengetahui penyebab anak-anak kesulitan dalam belajar matematika. Dengan demikian, setelah adanya identifikasi tersebut guru dapat memperbaharui metode pembelajaran yang ia gunakan sehingga kegiatan pembelajaran, khususnya pembelajaran matematika dapat berjalan lancar.

Refleksi Lesson Study dan Siswa Berkebutuhan Khusus Belajar Matematika (Telah dimuat di Bernas, 26 Agustus 2008)


Dilaksanakannya Workshop dan Simposium Internasional tanggal 23 -25 Agustus 2008 oleh prodi Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, UNY yang bertemakan “Lesson Study dalam Kaitannya dengan Pembelajaran Matematika dan Penjas Adapted untuk Anak Berkebutuhan Khusus” menjadi bukti bahwa setiap anak tanpa terkecuali berhak untuk mendapatkan pendidikan. Lesson Study tersebut dapat dijadikan sebagai dasar untuk mengembangkan pembelajaran matematika agar sesuai dengan karakteristik anak berkebutuhan khusus.
Guru dapat memanfaatkan Lesson Study untuk melakukan persiapan, mengimplementasikan, dan merefleksikan pembelajaran. Dengan begitu, diharapkan guru dapat memberikan pelayanan terbaik bagi anak berkebutuhan khusus kaitannya dengan kegiatan pembelajaran. Selain itu, Lesson Study juga dapat bermanfaat untuk memperbaiki kurikulum dan silabus serta sumber-sumber pembelajaran yang lainnya sehingga proses pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus dapat lebih inovatif.

Kamis, 21 Februari 2013

(Refleksi) Peran Penelitian dalam Pengembangan Pendidikan Matematika


Guru itu sudah pasti pendidik tetapi kalau pendidik itu belum tentu guru. Hal tersebut dapat terjadi karena pada hakikatnya guru itu adalah pendidik profesional. Seperti yang telah Bapak sampaikan bahwa pengetahuan dapat meningkatkan profesionalisme guru, maka hal tersebut memang benar adanya. Dalam ilmu pendidikan, profesionalisme guru dapat dikembangkan salah satunya melalui kompetensi pedagogik. Kompetensi tersebut ada kaitannya dengan pengetahuan yang dimiliki guru. Oleh karena itu, agar dapat menjadi pendidik profesional (guru) maka salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah senantiasa memperluas pengetahuan kita. Pengetahuan tersebut dapat kita peroleh melalui penelitian. Dengan adanya penelitian maka diharapkan guru dapat memiliki pengetahuan-pengetahuan yang dapat bermanfaat dalam proses pembelajaran, guru diharapkan dapat mengidentifikasi masalah-masalah kaitannya dengan kegiatan pembelajaran, dan bagaimana cara pemecahan masalah tersebut. Jadi saya sependapat bahwa penelitian itu mempunyai peran penting dalam pengembangan pendidikan. Dan pengetahuan yang diperoleh dari penelitian tersebut juga mempunyai peran dalam meningkatkan profesionalisme guru.

(Refleksi) Perencanaan Pembelajaran Matematika


http://powermathematics.blogspot.com/2008/11/perencanaan-pembelajaran-matematika.html

Sebelum melakukan kegiatan pembelajaran, seorang guru harus mempunyai persiapan, baik persiapan khusus maupun persiapan umum terlebih dahulu. Persiapan umum dan persiapan khusus tersebut juga diharapkan dapat mempermudah guru dalam memberikan pelayanan kepada siswa. Dalam melakukan pelayanan kepada siswa, guru dapat membuat atau mengembangkan sendiri LKS-nya. LKS tersebut tidak hanya berisi soal-soal saja tetapi juga harus berisi materi-materi yang dapat menambah pengetahuan siswa. Dengan adanya LKS yang dikembangkan sendiri oleh guru, maka pembelajaran dapat lebih inovatif.
Seperti yang telah disebutkan bahwa pelayanan kepada siswa dapat terwujud berkat adanya persiapan, baik persiapan umum maupun persiapan khusus. Persiapan khusus pada akhirnya akan menghasilkan Lesson Plan. Dalam Lesson Plan ini, terdapat tujuan pembelajaran, kompetensi dasar, standar kompetensi, metode pembelajaran, media, alat dan sumber belajar yang digunakan oleh guru. Guru harus mampu  membuat Lesson Plan atau RPP agar kegiatan pembelajaran lebih terorganisir dan agar kegiatan pembelajaran dapat lebih berorientasi kepada siswa.
Oleh karena itu, Lesson Plan mempunyai andil yang besar dalam kelancaran proses mengajar yang dilakukan guru karena dengan membuat Lesson Plan terlebih dahulu berarti guru telah membuat perencanaan untuk kegiatan mengajarnya di kemudian hari.