Jumat, 22 Februari 2013

(Refleksi) Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 2: Intuisi dalam Matematika (2)


Saat ini, pembelajaran di sekolah-sekolah masih banyak yang menekankan pada aspek kognitifnya saja. Hal ini terjadi karena adanya anggapan kalau aspek afektif dan psikomotor dapat anak peroleh di lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Selain itu, juga adanya anggapan kalau nilai anak-anak bagus maka kualitas sekolah itu juga bagus. Hal itu secara tidak langsung membuat nama guru di sekolah tersebut menjadi terangkat. Karena adanya anggapan-anggapan tersebut maka guru berusaha keras untuk mencerdaskan anak didiknya. Dalam prosesnya guru terkadang tidak sadar kalau mereka hanya memberikan pendidikan kepada anak pada aspek kognitifnya saja.
Sekarang ini anak (siswa) sudah mulai sedikit kehilangan intuisinya. Seperti yang telah disebutkan dalam artikel diatas bahwa intuisi dapat muncul setelah adanya pengalaman. Sedangkan pengalaman tidak akan muncul jika tidak didukung oleh keterampilan dan pengetahuan. Oleh karena itu, ketiga aspek tersebut (kognitif, afektif, dan psikomotor) saling berkaitan dengan munculnya intuisi matematika. Jadi, jika saat ini guru lebih menekankan aspek kognitif dalam kegiatan pembelajarannya maka tidak heran jika siswa juga mulai kehilangan intuisinya. Oleh karena itu, selain memberikan pengetahuan, guru juga harus mampu memberikan pengalaman dan keterampilan kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran agar siswa tidak kehilangan intuisinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar