Senin, 25 Februari 2013

(Refleksi) Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 10: Architectonic Mathematics (2)


Untuk membangun architectonic mathematics maka asumsi dasar yang harus kita pegang adalah bahwa matematika merupakan pikiran kita sendiri. Maksudnya, dalam mempelajari matematika tersebut kita memahami dan membangun sendiri pengertian-pengertian atau konsep-konsep matematika melalui penalaran dan pengamatan fenomena matematika. Dengan penalaran yang sifatnya analitik apriori dan pengamatan fenomena matematika yang menghasilkan konsep matematika yang bersifat sintetik a posteriori, maka akan diperoleh pemahaman atau konstruksi matematika yang sifatnya sintetik apriori.
Matematika sebagai ilmu maka harus bersifat sintetik apriori karena matematika sebagai ilmu itu merupakan matematika yang dibangun dengan berlandaskan intuisi murni yang mana konsep-konsep matematikanya telah dikonstruksi sehingga memiliki sifat sintetik apriori. Begitu pula dengan architectonic mathematics, architectonic mathematics juga memiliki sifat sintetik apriori. Oleh karena itu, agar dalam kegiatan pembelajaran siswa dapat menjadi architectonic mathematics maka guru harus menerapkan metode pembelajaran yang mampu melayani kebutuhan semua siswanya yang mana antara siswa yang satu dengan yang lainnya memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Maka dari itu, dalam kegiatan pembelajaran guru tidak hanya melihat Architectonic Mathematics hanya dari subyek diri seorang siswa saja, tetapi guru harus dapat melihat dalam konteks Architectonic-architectonic Mathematics dari siswa-siswa yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar