Rabu, 13 Maret 2013

Refleksi Pertemuan (Kuliah Matematika) Tanggal 7 Maret 2013 bersama Bapak Marsigit


Prinsip Demokrasi dalam Pembelajaran Matematika “Dari siswa, oleh siswa, dan untuk siswa”

Pada pertemuan tanggal 7 Maret 2013, Bapak Marsigit memperlihatkan sebuah video pembelajaran matematika kelas 2 SD di Jepang. Melalui video tersebut saya dapat mengetahui bagaimana jalannya kegiatan pembelajaran, metode apa yang diterapkan, dan seberapa besar keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Dari video itu terlihat bahwa guru menerapkan metode pembelajaran inovatif melalui kegiatan diskusi. Dalam satu kelas terdapat dua orang guru yang tergabung dalam satu tim. Sebelum kegiatan inti pembelajaran matematika dimulai, terlebih dahulu guru membagikan LKS kepada para siswa. Guru kemudian memberikan penjelasan singkat terkait dengan LKS tersebut. Guru hanya menjelaskan  konsep-konsep dasar materinya saja kemudian siswa diminta untuk mengembangkan sendiri konsep dasar tersebut melalui kegiatan diskusi. Namun sebelum kegiatan diskusi dilaksanakan, siswa diberikan kesempatan untuk berbicara terkait dengan konsep dasar yang telah disampaikan oleh guru sebelumnya agar diperoleh kesamaan konsep materi. Dengan begitu siswa tidak akan salah konsep dalam mengerjakan LKS yang telah diberikan oleh gurunya.
Setelah diberi apersepsi oleh guru, siswa kemudian mulai berdiskusi. Siswa diberi waktu dan kesempatan berdiskusi untuk mengembangkan kemampuan dan kecerdasan olah pikir mereka terhadap materi yang sedang dipelajari. Melalui metode diskusi ini, keaktifan siswa sangat terlihat karena metode ini berorientasi kepada siswa. Di sini terlihat sekali bahwa pembelajaran matematika itu dari siswa, untuk siswa, dan oleh siswa. Melalui metode ini siswa dapat membangun dan mengembangkan sendiri konsep-konsep matematika yang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari. Selama kegiatan diskusi apabila ada teman yang belum paham, siswa lain yang sudah paham kemudian membantu memberikan penjelasan kepada siswa yang belum paham tersebut. Dengan begitu berlaku metode tutor sebaya. Dalam metode diskusi ini guru menjalankan perannya sebagai fasilitator. Guru lebih berperan sebagai manajer daripada pengajar. Namun guru tidak sepenuhnya lepas tangan terhadap jalannya kegiatan diskusi. Guru secara bergilir mendatangi tiap-tiap kelompok. Apabila ada anak yang masih belum paham atau mengalami kesulitan, guru kemudian memberikan arahan dan bimbingan. Agar anak lebih bersemangat dalam belajar, tidak jarang guru juga memberikan kalimat-kalimat motivasi, seperti “ganbatte.”
Kemudian siswa juga mempresentasikan hasil pekerjaan mereka di depan kelas. Setiap satu kelompok diwakili oleh satu orang. Setelah dilakukan presentasi, hasil pekerjaan tiap-tiap kelompok dipajang di papan tulis. Masing-masing kelompok mengembangkan konsep dasar materi dengan cara mereka sendiri sehingga hasil pekerjaannya pun sangat bervariatif. Selama kegiatan presentasi, tampak bahwa tidak ada rasa takut dalam diri siswa ketika mereka berpendapat.  Semua siswa aktif menunjukkan partisipasinya. Apabila ada yang tidak sesuai, siswa langsung angkat tangan dan memberikan sanggahan. Siswa juga aktif bertanya, berkomentar, atau pun menanggapi apa yang dipresentasikan teman mereka. Di akhir kegiatan, guru juga memberikan tanggapan terhadap keseluruhan presentasi para siswanya.
Metode di Jepang ini sangatlah inovatif. Siswa diberi kesempatan untuk ikut serta dalam membuat kurikulum sekolahnya. Setiap guru memiliki catatan masing-masing siswanya atau yang biasa disebut dengan “student report”. Dengan begitu guru mengetahui hal-hal apa saja yang dibutuhkan siswa sehingga guru dapat melayani siswa dengan baik.
Dengan diterapkannya metode diskusi dalam kegiatan pembelajaran, maka siswa menjadi lebih aktif dan kreatif. Siswa dapat mengembangkan sikap percaya diri dan berani berpendapat sehingga dapat melatih kepekaan intuisi mereka. Siswa diposisikan sebagai subjek pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran tidak hanya merupakan kegiatan transfer of knowledge dari guru ke siswa saja melainkan merupakan kegiatan pembelajaran untuk membangun pengertian terhadap suatu konsep materi oleh diri siswa sendiri. Dalam metode diskusi ini guru merupakan fasilitator dan peneliti dalam memecahkan masalah-masalah yang belum mampu diselesaikan sendiri oleh siswa.
Menurut pendapat saya, pembelajaran di Jepang sangatlah mengagumkan. Dalam kegiatan pembelajarannya siswa tidak hanya belajar matematika secara mendasar saja namun siswa juga belajar tentang konsep-konsep matematika secara mendalam sehingga siswa tidak hanya sebatas tahu tapi juga paham, siswa tidak sekedar dapat menjawab suatu persoalan dengan benar namun siswa juga dapat menganalisis secara mendalam konsep-konsep matematika yang berkaitan dengan materi tersebut. Selebihnya siswa juga dilatih untuk membangun pengertian mereka sendiri.
Terlihat sekali bahwa dalam kegiatan pembelajaran matematika di Jepang tersebut, prinsip demokrasi pembelajaran sangat dijunjung tinggi. Guru tidak bersikap otoriter terhadap siswanya tetapi sebaliknya guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk membangun pengertian mereka sendiri terhadap suatu konsep matematika. Guru juga melakukan pelayanan yang baik terhadap para siswanya.
Setelah melihat video tersebut banyak pelajaran/ pengetahuan baru yang saya peroleh. Saya menjadi tahu bahwa guru tidak seharusnya mengekang ruang berpikir siswa. Guru harus mampu memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir dan membangun sendiri pengertian dan pemahaman mereka terhadap suatu konsep matematika. Guru juga harus mampu melayani siswa, mengetahui apa yang menjadi kebutuhan siswa, dan yang terpenting guru harus mampu menjadi fasilitator bagi siswa.
Untuk ke depannya saya berharap Indonesia dapat mencontoh sistem pembelajaran dari Jepang. Seperti yang kita ketahui, anak-anak Indonesia sudah mulai kehilangan intuisinya. Oleh karena itu mulai sekarang guru harus mampu untuk membudayakan intuisi anak dan mengembangkan potensi-potensi yang mereka miliki. Guru harus mampu menerapkan metode pembelajaran yang sesuai agar intuisi anak selalu berkembang. Untuk itu, tidak ada salahnya jika guru-guru Indonesia mengadopsi metode pembelajaran dari Jepang agar ke depannya pendidikan di Indonesia dapat menjadi lebih baik lagi dan agar anak-anak Indonesia tumbuh menjadi anak yang berwawasan internasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar