Jumat, 31 Mei 2013

REFLEKSI: Filsafat Hidup Orang Indonesia_oleh Marsigit


Dalam filsafat hidup orang Indonesia, orang Indonesia cenderung memikirkan hal-hal yang konkret dan sifatnya kuantitatif baru kemudian memikirkan hal-hal yang abstrak dan sifatnya kualitatif. Orang Indonesia cenderung memikirkan hal-hal yang terlihat secara fisik (yang dapat terlihat oleh indera penglihatan) terlebih dahulu baru kemudian  memikirkan hal-hal yang non-fisik. Misalnya saja, ada seorang pengusaha dan seorang pemulung. Si pengusaha merupakan orang yang telah memiliki materi yang banyak sedangkan si pemulung, materi yang dimilikinya hanya cukup untuk ia dan keluarganya makan selama satu hari. Karena si pengusaha telah berkecukupan dalam hal materi, maka hal yang kemudian dia pikirkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan hubungan sosial dengan orang lain, kemudian berlanjut ke menjadi seorang pemikir yang mampu mencetuskan ide-ide kreatif bagi pekerjaannya, kemudian dia akan memikirkan filsafat hidupnya, baru kemudian dia akan memikirkan hal-hal spritual yang berkaitan dengan Tuhannya. Berbeda dengan si pemulung tadi. Dia tidak akan repot-repot memikirkan hubungan sosialnya dengan orang lain karena dia sendiri sudah cukup penat dengan urusan pribadinya sendiri. Dia juga belum terlalu memikirkan hubungan spiritualnya dengan Tuhan karena dia masih terlalu memikirkan kebutuhan duniawinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar