PERAN
KEGIATAN DISKUSI BAGI SISWA
Pada tanggal 28 Maret
2013, Bapak Marsigit memperlihatkan kepada kami (mahasiswa PGSD kelas 2F)
tentang pembelajaran matematika di Jepang pada kelas tinggi tingkat sekolah
dasar. Dari video tersebut terlihat bahwa dalam kegiatan pembelajaran tersebut
telah diterapkan metode pembelajaran inovatif. Dalam kegiatan pembelajaran,
anak dilatih untuk aktif. Hal ini dapat terlihat dengan adanya kegiatan diskusi
di kelas.
Kegiatan pembelajaran
di awali dengan pemberian apersepsi dari guru kepada siswa. Guru memberikan
sedikit pengantar tentang materi yang akan dipelajari. Pengantar tersebut
berupa penjelasan secara umum tentang materi yang akan dibahas. Setelah itu guru
kemudian memberikan LKS kepada siswanya. Siswa mengerjakan LKS tersebut secara
berkelompok. Masing-masing kelompok harus berdiskusi membahas materi yang
sedang dipelajari. Dalam video tersebut siswa sedang mempelajari bangun datar,
khususnya tentang luas bangun datar. Siswa saling bertukar pemikiran untuk
dapat menyelesaikan LKS yang diberikan oleh guru. Kegiatan diskusi ini dapat
menjadi sarana bagi siswa untuk mengembangkan kreativitasnya, membangun/
mengonstruksi sendiri konsep-konsepnya terhadap suatu materi, dan untuk
mengembangkan kecerdasan dan olah pikir siswa terhadap konsep-konsep
matematika.
Seperti kegiatan
pembelajaran inovatif lainnya, dalam kegiatan pembelajaran di video tersebut
dalam 1 kelas juga terdapat 2 orang guru yang tergabung dalam 1 tim. Dalam
kegiatan ini, kegiatan pembelajarannya dipusatkan pada siswa (student
centered), sehingga siswa menjadi lebih aktif dan kreatif. Sementara siswanya
yang aktif, maka dalam metode pembelajaran inovatif ini guru lebih berperan
sebagai fasilitator, motivator, dan konselor. Sebagai fasilitator, guru
memberikan jalan pada kelancaran proses belajar secara mandiri siswanya.
Sebagai motivator, guru memiliki tugas untuk membangkitkan minat siswa untuk
belajar secara mandiri. Sedangkan sebagai konselor, guru membantu siswa
menemukan dan mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh siswanya, dengan
catatan siswa tersebut sudah tidak mampu lagi untuk memecahkan masalahnya
sendiri. Dengan demikian guru harus mampu memahami karakteristik tiap-tiap
siswanya.
Kegiatan diskusi dalam
kelas tersebut dikembangkan dengan memperhatikan kebutuhan siswa. Prinsip
demokrasi diterapkan dalam metode ini. Pembelajaran dilakukan oleh siswa, dari
siswa, dan untuk siswa. Siswa bebas mengekspresikan pemikiran mereka tentang materi
yang sedang dipelajari.
Setelah dilakukan
diskusi, tiap-tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan
kelas. Kapasitas diskusi pada kegiatan presentasi ini sudah klasikal karena
sudah mencakup satu kelas. Dari presentasi tersebut dapat dilihat semua hasil
diskusi masing-masing kelompok. Karena diskusi memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mengembangkan dan mengonstruksi pemikiran mereka sendiri, maka
antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya berbeda-beda hasil
pekerjaannya. Dengan begitu siswa menjadi lebih aktif dan kreatif.
Menurut saya, metode
pembelajaran inovatif melalui kegiatan diskusi ini sangat baik jika diterapkan
dalam kegiatan pembelajaran. Melalui kegiatan diskusi, siswa dapat lebih
percaya diri karena terbiasa untuk mengemukakan pendapatnya di depan umum.
Kegiatan diskusi ini dapat menstimulasi kepekaan intuisi siswa sehingga ke
depannya siswa tidak akan kehilangan intuisinya.
Jika dibandingkan
dengan kegiatan pembelajaran dalam video yang diputar Bapak Marsigit pada
perkuliahan tanggal 7 Maret 2013 tentang pembelajaran matematika kelas 2 SD di
Jepang, kegiatan pembelajaran yang diputar pada pertemuan tanggal 28 Maret
kemarin memang masih perlu untuk diperbaiki. Kegiatan pembelajaran dalam video
yang diputar pada tanggal 7 Maret lalu sudah memenuhi standar inovatif. Namun
kegiatan pembelajaran dalam video yang diputar pada pertemuan kemarin guru
masih mendominasi kegiatan pembelajaran. Guru masih sedikit bertindak otoriter
pada siswanya. Tapi saya pribadi sangat mengapreasi usaha yang dilakukan oleh
guru-guru di Jepang dalam mengembangkan metode pembelajaran inovatif. Saya
berharap, semoga guru-guru di Indonesia juga turut serta untuk mengembangkan
dan menerapkan metode pembelajaran inovatif dalam kegiatan pembelajarannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar